Saturday, August 3, 2019

Liturgi Gereja Zaman Reformasi (1517 – Kini)

Liturgi Gereja Zaman Reformasi (1517 – Kini): Untuk kepentingan Pembelajaran dengan Metode Blended Learning Yonas Muanley
Sumber: dari blog Yonas Muanley dengan alamat:
https://yonasmuanley.wordpress.com/2011/06/03/pendidikan-agama-kristen-liturgi-ibadah/
Dilarang menerbitkan bahan ini tanpa izin dari pemilik yaitu Dr. Yonas Muanley, M.Th. Silakan kontak saya di fitur kontak. Bahan Ajar Online dalam blog ini akan saya jadikan sebagai buku Ajar yang berISBN. Dengan cover judul bahan ajar seperti yang saya buat dalam salah satu lama blog ini.


Setelah Reformasi Gereja Barat yang berpusat di Roma mengalami perpecahan. Gereja yang tetap setia kepada Paus di Roma disebut Gereja Katolik Roma atau Gereja Katolik. Sedangkan orang Kristen yang tertarik dengan Reformasi Marthen Luther, selanjutnya organisasi Gerejanya disebut Gereja Protestan. Setelah Marthen Luther muncul Reformator lain seperti John Calvin dan Ulrich Zwingli. Masing-masing mereka menyusun liturgy yang selanjutnya dipakai oleh Gereja-gereja yang menerima asas-asas dari para Reformator tersebut.
1.Liturgi Gereja Katolik (yang terkini belum diperoleh)
2.Liturgi Gereja Reformasi/Protestan





Liturgi Marthen Luther (lihat lampiran)
Unsur-unsurnya:
1. Nyanyian suatu Mazmur atau nyanyian rohani
2. Kyrie Eleison dan Gloria
3. Doa mingguan (doa kolekta)
4. Pembacaan Surat
5. Nyanyian Mazmur
6. Pembacaan Injil
7. Kredo (dinyanyikan)
8. Homilia/Khotbah
9. Doa Bapa Kami (dinyanyikan)
10. Nasihat
11. Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus
12. Pembagian roti (sementara menyanyikan sanktus atau nyanyian lain)
13. Pembagian cawan (sementara menyanyikan Agnus Dei)
14. Pengucapan syukur

Liturgi Pra Liturgi John Calvin (lihat lampiarn)

Sebelum John Calvin menyusun Liturgi, ia menemukan dua liturgy yang menginspirasi lahirnya Liturgi John Calvin yang selanjutnya diikuti oleh pengikut Cavin yang sering disabut Gereja Calvinis. Dua liturgy tersebut kami paparkan sebagai berikut:
1.Liturgi Strasburg (disusun Marthin Bucer)
Unsur-unsurnya:
1. Kata Permulaan
2. Pengakuan dosa dan Pemberitaan Anugerah
3. Pemberitahuan Pengampunan dosa (absolusi)
4. Nyanyian Mazmur atau Nyanyian rohani
5. Lyrie atau Gloria
6. Salam dan doa agar diterangi Roh Kudus
7. Mazmur atau Nyanyian dasa Firman
8. Pembacaan Surat atau Kitab lain (dengan keterangan pendek/singkat)
9. Injil Minggu/Lectio Continua dengan Khotbah
10. Kredo: Apostolikum (pengakuan iman Rasuli) dengan dinyanyikan atau nyanyian lain
11. Salam
12. Pembacaan formulir untuk merayakan Perjamuan Kudus
13. Doa Syafaat
14. Kata-kata peringatan akan penderitaan Tuhan Yesus Kristus
15. Doa agar diterima
16. Doa Bapa kami
17. Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus
18. Pembagian roti dan anggur (sementara menyanyikan Kyrie Eleison atau suatu Mazmur)
19. Pengucapan Syukur
20. Berkat (menurut Bil. 6)
21. Suruhan untuk pulang dengan damai sejahtera.

2.Liturgi Jenewa-Swiss (lihat lampiran)
Unsur-unsurnya:
1. Pertolongan kita (Maz. 124:8)
2. Pengakuan dosa
3. Pemberitahuan pengampunan dosa
4. Doa memohon pengampunan dosa
5. Dasa Firman
6. Nyanyian Mazmur
7. Doa (menurut rangka doa Bapa kami)
8. Pembacaan Firman (sesuai system ‘lectio continua’)
9. Khotbah/Homilia
10. Pengumpulan persembahan
11. Doa Syafaat
12. Kredo (Pengakuan Iman Rasuli, dinyanyikan)
13. Formulir Perjamuan Kudus (dengan kata-kata peringatan)
14. Doa agar diterima disertai doa Bapa Kami
15. Kata-kata penetapan-disusul dengan nasehat panjang
16. Kata-kata pembagian roti dan anggur
17. Komuni sementara menyanyikan Mazmur
18. Pengucapan syukur dan nyanyian pujian dari Zimeon
19. Berkat (Bil. 6)
20. Utusan untuk pergi dalam damai
21. Liturgi John Calvin (lihat lampiran)
Berdasarkan temuan dua liturgy itu maka Calvin menyusun Liturgi ibadah dengan unsure-unsur sebagai berikut:
1. Votum
2. Pengakuan dosa
3. Pemberitahuan Anugerah
4. Puji-pujian (pembacaan Dasa Titah)
6. Epiklese (doa untuk pembacaan firman TUHAN)
7. Pemberitaan Firman TUHAN
8. Kredo : Pengakuan Iman Rasuli
9. Doa Syafaat
10. Pengumpulan Persembahan
11. Berkat (Bil.6 atau rumus berkat lainnya)
Unsur-unsur Liturgi yang dipakai di Indonesia (lihat lampiran)
1. Votum
2. Salam
3. Introitus/Nats Pembimbing
4. Pengakuan dosa
5. Pemberitaan Anugerah
6. Hukum
7. Gloria Kecil (nyanyian: Hormat bagi Allah Bapa …)
8. Kyrie Eleison
9. Nyanyian pujian
10. Doa
11. Pembacaan Alkitab
12. Homilia/Khotbah
13. Mazmur dan Haleluyah
14. Pengakuan Iman
15. Doa Syafaat
16. Pemberian Jemaat
17. Nyanyian dan Paduan suara/grup vokal, solo,duet, trio
18. Berkat

Penjelasan untuk setiap unsure dari liturgi di atas
Votum adalah suatu keterangan khidmat atau janji yang khidmat. Votum disamakan dengan kata-kata pembukaan ketua rapat ketika memulai suatu rapat. Kata pembukaan ketua ini berfungsi menertibkan pertemuan yang tidak teratur menjadi pertemuan yang teratur. Demikian pula votum, melalui ucapan votum pertemuan jemaat menjadi sebuah pertemuan yang teratur. Jadi secara fungsional votum dan kata pembukaan ketua rapat sama tetapi secara derajat votum dan kata pembukaan dari ketua rapat itu berbeda. Jika kata pembukaan ketua rapat itu berhubungan dengan aspek horizontal dari peserta rapat maka votum lebih dari itu, yaitu menyentuh aspek vertical (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan dengan jemaat yang hadir). Misalnya ketua rapat memulai rapat dengan mengatakan kata khidmat “saya membuka rapa” atau saudara-saudara kita akan segera memulai rapat kita. Sedangkan Votum “Pertolongan kita ialah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi” (rumus votum ini menyangkut dengan Tuhan dan umat-Nya yang berkumpul). Dalam votum terletak amanat, kuasa (eksousia) Tuhan Yesus. Segala sesuatu yang menyusul setelah votum semuanya berlangsung dalam nama Tuhan (Lihat rumus votum, Maz.124:8) Jadi maksud votum adalah mengkonstatir hadirnya Tuhan di tengah-tengah umat-Nya. Maka Gereja mengucapkan votum pada permulaan kebaktian atau votum menjadi unsure pertama dalam ibadah Protestan. Votum hendak menegaskan bahwa berlangsungnya ibadah dari awal sampai akhir ibadah hanya dapat terjadi dalam pimpinan Tuhan. Pendeta dapat memimpin ibadah dan Jemaat dapat berdoa, memuji Tuhan dst dalam ibadah Gereja itu hanya berlangusng karena Tuhan dan bukan kehebatan pendeta atau jemaat (Abineno,2000:2-3)

Salam adalah tanda persekutuan antara yang memimpin ibadah dengan jemaat. Dalam ibadah pelayan memberi salam kepada Jemaat dari mimbar dan jemaat memberi salam kepada pelayan yang sedang di mimbar. Salam adalah tanda persekutuan. Dengan salam ini mau ditegaskan bahwa pemimpin ibadah tidak sendirian dalam ibadah tetapi ia bersama-sama dengan jemaat. Oleh karena itu pengucapan salam juga menunjukkan tanda ikatan emosional antara pemimpin ibadah dan anggota jemaat. Rumus salam seperti dalam: Rom. 1:7; 2 Tim.1:2; 2 Kor.13:13 (Abineno, 2000:8)

Introitus terdiri dari nyanyian masuk dengan atau tanpa nas pendahuluan yang dinyanyikan oleh jemaat dan bukan oleh Paduan suara atau vokal group. Ada Gereja yang menggantikan introitus dengan nats pembimbing. Baik introitus maupun nats pembimbing selalu dihubungkan dengan tahun Gerejawi atau nats khotbah.(Abinen0, 2000:14-15)

Pengakuan dosa. Dalam Missale Romanum diinformasikan bahwa sejak abad ke 10 terdapat kebiasaan imam ketika sampai dekat mesbah, imam tunduk menyembah dan mengaku dosanya kepada Tuhan. Ketika unsure Pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah diteruskan dalam ibadah Protestan maka dua unsure ini dirubah yaitu pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dosa dijadikan sebagai akta jemaat. Dengan kata lain Gereja Reformasi meneruskan pemakaian pengakuan dosa (Confiteor) dan permohonan pengampunan (absolusi) dalam ibadah yang dilakukan oleh jemaat kepada Tuhan dan bukan hanya oleh imam atau pendeta. Jadi dalam ibadah Protestan, pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dirubah dan dijadikan menjadi akta jemaat. (Abineno, 2000:170
Hukum yang dimaksud disini adalah pembacaan 10 hukum Taurat dalam ibadah Gereja
Gloria Kecil, Kyrie Eleison dan Nyanyian Pujian. Gloria kecil adalah sebuah nyanyian: Hormat bagi Bapa serta Anak dan RohKudus, seperti pada permulaan, sekarang ini dan selama-lamanya. Amin. Kyrie Eleison (Tuhan Kasihanilah) adalah suatu doa yang terkenal di bangsa-bangsa kafir di Mesir, Asia Kecil, Konstantinopel, Yunani, Roma dll) yang kemudian diambil alih oleh jemaat dalam liturgy mereka. Unsur ini semakin lama semakin hilang dalam liturgy ibadah Gereja Calvinis. Nyanyian Pujian adalah penyembahan atau penghormatan kepada Allah atau suatu worship dimana jemaat sekarang mendapat bagian di dalam kidung pujian, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Wahyu. (Abineno, 2000:34-36,40).

Doa Pembacaan Alkitab dan Khitbah. Dalam ibadah Protestan, pembacaan Alkitab dan Renungan mendapat tempat yang sentral atau mendapat porsi waktu yang cukup lama dari unsure-unsur lainnya karena ibadah Protestan sentralnya adalah Firman Tuhan (Sola Skriptura). Dalam Bacaam Alkitab itulah tercermin bagaimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Tetapi karena sabda Tuhan itu ditulis dalam budaya (Ibrani dan Yunani) maka perlu diberi penjelasan atau homilia sehingga jemaat mengerti Tuhan yang berbicara kepada-Nya. Atau Tuhan yang dijumpai di Ibadah Gereja. Supaya isi Alkitab yang dibacakan dapat dimengerti maka perlu berdoa mohon pencerahan Roh Kudus.

Pengakuan Iman. Ada Gereja yang memakai pengakuan iman sebagai unsure liturgy tetapi ada pula Gereja yang tidak memakainya dalam liturgy ibadah. Sejak semula pengakuan iman erat hubungan dengan orang yang dibaptis. Pada acara baptisan, sang calon baptisan menjawab soal-soal yang berhubungan dengan pengakuan imannya. Misalnya: Uskup, percayakan engkau kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa- orang yang dibaptis menjawab: aku percaya (sesudah itu ia diselamkan) dst. Pada abad ke-5 pengakuan iman mulai dipakai dalam ibadah Jemaat di sebelah Timur (Antiokhia dan Konstantinopel). Kemudian dipakai di Gereja Barat di misa Romawi pada tahun 1014. Di Gereja Barat, pengakuan iman ditempatkan setelah khotbah dan permulaan ibadah Perjamuan Kudus. Seterusnya dalam Gereja Roma sekarang pemakaian Pengakuan Iman setelah Khotbah. Gereja Reformasi juga memakai pengakuan iman dalam tata ibadah jemaat dengan urutan yang tidak sama, ada Gereja yang sebelum khotbah tetapi ada pula yang melakukannya setelah khotbah. Hal ini bergantung dari tujuan pengakuan iman tersebut. Pengakuan iman yang biasa dipakai adalah: Pengakuan Iman Rasuli (PIR), Pengakuan Iman Nicea ( PIN), Pengakuan Iman Athanasius.

Doa Syafaat. Tempatnya dalam ibadah Jemaat biasanya sesudah khotbah. Isi doa syafaat adalah untuk orang lain: Gereka, Pemerintah dll. Sikap doa syafaat: ada yang menyatakan sebaiknya doa syafaat dilakukan dengan sikap berlutut, yaitu sikap penyembahan jiwa manusia dihadapan kebesaran Allah (Kuyper). Ada yang menyatakan doa syafaat dilakukan dengan sikap berlutut bagi anggota jemaat ditempatnya masing-masing, sedangkan pelayan di depan meja atau mimbar (Van der Leeuw). Yang lain menyatakan doa syafaat dilakukan dengan sikap berdiri (Golterman) namun akan sangat melelahkan jika doanya panjang. Ada pula yang mengusulkan sikap duduk lebih baik karena menyatakan keakraban, kerendahan hati dan konsentrasi (Abineno, 2000:86-91)

Pemberian Jemaat adalah syukur jemaat kepada Tuhan atas berkat yang Tuhan berikan kepada Jemaat. Jadi persembahan adalah pernyataan syukur kepada tuhan. Tempatnya setelah Khotbah. Karena persembahan adalah respon umat terhadap Tuhan yang telah memberkatinya.

Berkat. Biasanya melalui penumpangan tangan. Penumpangan tangan disini hanya bersifat symbol yaitu berkat. Tuhan sendirilah yang memberkati anggota jemaat. Sedangkan penumpangan tangan adalah symbol tentang berkat dimaksud. Rumus berkat: Bil. 6:22-27; II Kor. 13:13; Bil.6:24-26 dan ayat-ayat lainnya dalam Alkitab.
Berbagai unsure liturgi yang diuraikan di atas, ada yang memeakai secara keseluruhan tetapi ada pula yang tidak seluruhnya, hanya unsure-unsur tertentu yang dipakai dalam ibadah jemaat pada setiap hari Minggu. Misalnya ada Gereja yang tidak memakai kata Votum tetapi menggunakan kata-kata pembukaan dalam memulai suatu ibadah. Sebenarnya kata-kata pembukaan, entah oleh WL atau MC dalam suatu ibadah dan rumus votum yang diucapkan oleh pelayan dalam ibadah Gereja sama esensinya. Tetapi secara Teologis makna rumus votum (Pertolongan kita ialah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi) lebih dalam makna teologisnya dari pada kata-kata pembukaan oleh MC dll, kecuali MC membuat kata-kata pembukaan yang maknanya sama dengan rumus votum tersebut di atas.
Unsure-unsur liturgy yang dijelaskan di atas tidak seluruh Gereja memakainya. Ada Gereja-gereja yang mungkin memakai unsure baru dalam liturgy ibadah. Gereja-gereja yang belum kami singgung liturgy ibadahnya, yaitu:
Liturgi Gereja Anglikan (belum dapat)
Liturgi Gereja Metodis (belum dapat)
Liturgi Gereja Anabaptis (belum dapat)
1. Liturgi Gereja Baptis (belum dapat)
2. Liturgi Gereja Pentakosta (belum dapat)
3. Liturgi Gereja Bethel Indonesia (amatan melalui ibadah mahasiswa)

Adalah tidak seimbang jika dalam pembahasan liturgy (dalam arti tata ibadah) tidak menyinggung tentang unsure-unsur liturgy yang dipakai dalam Ibadah Gereja Bethel Indonesia. Hal ini disebabkan karena kami menyajikan materi kuliah ini di Sekolah Teologi yang dinaungi Gereja Bethel maka kami harus membicarakan tentang liturgy Gereja Bethel. Mungkin istilah liturgy tidak umum dipakai, yang dipakai adalah tata ibadah.

Penulis menyadari tata unsure-unsur tata ibadah yang disinggung dalam bahasan ini tidak kami temukan dalam dokumen Gereja Bethel tetapi kami simpulkan secara fenomena beribadah, yaitu pada saat mahasiswa STTB The Way kelas Ekstensi mengadakan desain dan eksperimen liturgy ibadah di kelas pada tanggal, 30 Agustus 2006 Pukul, 17.45-21.00. Dari ibadah inilah kami dapat menyimpulkan unsure-unsur yang dipakai dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia (mungkin tidak semua jemaat local Gereja Bethel Indonesia memakai unsure-unsur yang sama dari yang kami sebutkan, karena unsure-unsur ini bergantung dari WL dengan system mengalir/pimpinan Roh).
Dengan demikian kami segera merumuskan unsure-unsur yang ada dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia (Tata Ibadah/Liturgi Gereja Bethel):
Usnsur-unsur liturgy Gereja Bethel Indonesia sbb:

Kata Pembukaan/kata pengantar beribadah : oleh Worship Leader/WL
Doa Pembukaan : Oleh WL
Pengakuan dosa
Doa memberkati jemaat
Doa untuk Pengkhotbah dll sambil diringi musik (piano)
Pujian Penyembahan : Oleh WL
Dinyanyikan dalam posisi duduk
Dinyanyikan dalam posisi berdiri sambil bertepuk tangan
Dilanjutkan dengan berbahasa Roh
Bertepuk tangan dan bermazmur
Bersalaman satu dengan lainnya
Menyanyi dengan bersukaria sambil melompat-lompat
Menyanyikan sebuah pujian yang diulangi beberapa kali untuk menyambut pembacaan Alkitab dan penguraiannya/homilia (jemaat duduk)
Menyanyi bersama : (Jemaat berdiri)
Menyanyi nyanyian Baru : Oleh WL, anggota Jemaat dan pendeta
Doa Pembacaan Alkitab : Oleh Pengkhotbah
Bacaan Alkitab : Oleh Pengkhotbah
Renungan : Pengkhotbah
Doa ucapan syukur atas Firman Tuhan : Oleh Pengkhotbah
Pengumuman : Oleh Petugas
Doa Persembahan : Oleh WL
Persembahan Jemaat : Oleh Petugas
Doa Syafaat : Jemaat berdiri, doa dipimpin oleh petugas
Doa Berkat : Oleh Pendeta/Pengkhotbah

Berdasarkan liturgi ibadah ini tercermin peranan jemaat dalam ibadah, tidak ada monopoli oleh pendeta, anggota jemaat berpartisipasi dalam ibadah melalui puji-pujian, bahasa Roh, nyanyian baru dan unsure-unsur lainnya yang menjadi indicator pertemuan anggota jemaat dengan Tuhan dalam sebuah ibadah. Selanjutnya perjumpaan Tuhan dengan anggota jemaat dalam ibadah ini nampak dalam bacaan Alkitab dan renungan Firman Tuhan, renungan Firman Tuhan diusahan oleh pengkhotbah dengan bersandar pada kekuatan Roh sehingga menjadi actual dan fungsional bagi pendengar.
Dalam ibadah ini pun WL banyak memainkan peran berdasarkan konsep mengalir (Flowing Consept). Konsep mengalir yang dimaksudkan disini sebagaimana yang kami ketahui dari mahasiswa dan juga dalam Workshop Handbook Fresh Worship Conference Jakarta 2006, khususnya yang disajikan oleh Pdt. Ir. Welyar Kauntu. Ia menyatakan bahwa tujuan dari konsep mengalir adalah (1) mengerti alur ibadah yang tepat (2) mengerti bagaimana menyanyikan sebuah lagu dengan tepat (3) mengerti bagaimana menyatu dengan musik dan singers (4) mengerti bagaimana menyambung aliran dari lagu ke lagu. Selanjutnya Kauntu menyatakan bahwa unsure penentu mengalir terdiri dari focus; interpretasi; dan harmoni. Unsur focus dari konsep mengalir, yaitu menjaga supaya semua mata tertuju kepada Tuhan Yesus melalui ekspresi yang benar; lagu-lagu yang dipilih hendaknya memfokuskan orang pada Tuhan Yesus; konsep mengalir berfokus pada usaha memotivasi dan bukan menggurui, mengaja dan bukan memerintah; membuat keputusan tepat sesuai tuntunan Roh Kudus. Unsur Interpretasi menyangkut penghafalan lirik lagu dan memahami makna setiap baris dan kalimat lagu tersebut; menangkap dengan tepat “hook” lagu dan dinamikanya; mengetahui waktu yang tepat untuk “add-lip” dan komentar pendek. Unsur Harmoni dari konsep mengalir yaitu adanya kesatuan Roh dan kesatuan motivasi; menyatu dengan interpretasi musik, khususnya rhythm dan tempo lagu; mengenal intro, interlude dan coda lagu dengan baik; komposisi arasemen vokal yang baik bersma para singers.(Workshop Handbook Fresh Worship Conference Jakarta, 2006:8-9)

Berdasarkan unsure-unsur ibadah yang muncul dalam praktik ibadah di kelas oleh mahasiswa STTB The Way Kelas Ekstensi yang mayoritas berasal dari Gereja Bethel Indonesia maka dapat kita katakana bahwa ada unsure lama (unsure liturgy/tata ibadah Gereja masa lampau ) dan ada unsure baru (kesesuaian dengan pimpinan Roh Tuhan dan perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman ) dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia.
Pada akhirnya kami katakana bahwa apapun tata ibadah yang kita buat harus mencerminkan pertemuan Tuhan dengan umat-Nya dan umat-Nya dengan Tuhan. Pertemuan umat atau anggota Gereja dengan Tuhan dalam sebuah ibadah minggu dan ibadah lainnya dapat dilihat dari keikutsertaan anggota jemaat dalam ibadah seperti: Berdoa, Berbahasa Roh, Memuji Tuhan, Menyembah Tuhan, Mengaku dosa sebelu, bertemu Tuhan, memberi sykur kepada Tuhan melalui persembahan, menyanyikan nyanyian baru dll. Sedangkan pertemuan Tuhan dengan umat-Nya atau anggota Gereja itu terjadi melalui membaca Alkitab. Artinya ketika Alkitab dibacakan maka sebenarnya Jemaat sedang mendengar Tuhan berbicara kepada Jemaat. Bacaan Alkitab juga perlu dijelaskan karena Firman Tuhan itu disampaikan dalam konteks budaya lain seperti budaya Ibrani dan Yunani oleh karena itu maka setelah Alkitab dibacakan segera diikuti dengan renungan sehingga jemaat mengerti Tuhan yang berbicara kepanya, entah dalam bentuk nasehat, teguran atas dosa dll. Selain itu dapat juga melalui doa berkat, yaitu melalu doa berkat Tuhan sendiri memberi berkat kepada jemaat. Penumpangan tangan pendeta atau hamba Tuhan hanya tindakan simbolis saja.

Oleh karena konsep seperti itu maka ibadah mesti disiapkan secara baik. Tata ibadah harus disiapkan secara baik, WL juga mempersiapkan diri dengan baik dan memang demikian karena informasi yang kami peroleh tidak semua orang menjadi WL, ada pelatihan khusus WL di Bandung.
Jadi jelas bahwa ibadah, entah oleh gereja manapun, Katolik, Protestan dan Gerakan Kharismatik harus mencerminkan perjumpaan antara Tuhan dan Jemaat-Nya dan jemaat-Nya dengan Tuhan. Pertemuan ini harus terakomodasi dalam sebuah tata ibadah yang dirancang entahkah dengan system tata ibadah yang baku dan dengan “system mengalir”. Untuk mencapai maksud ini maka perlu renungan mendalam tentang apa itu ibadah Gereja?dan bagaimana liturginya atau tata ibadah yang mencerminkan definisi kita tentang ibadah.





Pengertian Ibadah

Pengertian ibadah yang dimaksud disni akan kita perhatikan dalam beberapa definisi yang dibuat oleh para ahli teologi. Selanjutnya usaha memahami ibadah dimaksudkan untuk menolong kita dalam menyusun liturgy (tata ibadah) yang mencerminkan isi definisi kita tentang ibadah. Namun ini tidak bermaksud mengikat kehadiran Tuhan dalam tata ibadah. Tetapi paling tidak ada pemahaman yang menolong kita dalam menyusun tata ibadah kontemporer yang cocok dengan konteks setempat.
Pemahaman kita tentang ibadah juga akan menolong kita memahami betapa tinggi nilai teologis dari tata ibadah gereja masa lampau yang diwariskan kepada kita. Sebaliknya pengertian tentang ibadah juga menolong kita untuk memahami lemahnya teologi dalam suatu tata ibadah yang kita miliki maupun yang akan kita buat.

Berikut ini beberapa definisi tentang ibadah Kristen.

Pengertian Ibadah berdasarkan pendekatan etimologi kata:
“Ibadah berasal dari bahasa Arab, sedangkan kata Ibrani untuk Ibadah adalah “Abodah” (Ibrani), Arti harafiahnya adalah bakti, hormat, penghormatan, suatu sikap dan aktivitas yang mengakui dan menghargai seseorang/yang ilahi” atau “Suatu penghormatan hidup yang mencakup lesalehan (yang diatur dalam suatu tata cara), yang implikasinya nampak dalam tingkah laku dan aktivitas kehidupan sehari-hari”.
Jadi dapat diartikan bahwa “Ibadah adalah ekspresi dan sikap hidup yang penuh bhakti (penyerahan diri) kepada yang ilahi, yang pengaruhnya nampak dalam tingkah laku yang benar”.
Selain Ibadah/Abodah, Alkitab juga memakai beberapa kata untuk Ibadah. Kata kerja Abad (Ibrani) berarti melayani atau mengabdi. Sedangkan kata Abodah (Ibrani), Latria (Yunani) berarti pelayanan atau bisa juga berarti pemujaan dan pemuliaan. Kata kunci dalam pengertian ibadah yaitu sikap hormat (pemuliaan) dan pelayanan (sikap hidup)” . Berdasarkan studi ini, maka yang dimaksud dengan Ibadah adalah pertemuan dengan Allah dan respon jemaat terhadap kehadiran TUHAN dengan tindakan-tindakan yang ajaib dan menyelamatkan.(Jurnal STT INTIM,2004:52-54)

LITURGI IBADAH GEREJA (penyimpulkan arti)
Definisi Konseptual:

Liturgi Ibadah adalah seperangkat system atau aturan yang sistematis, harmonis,logis, dinamis, fungsional dalam sebuah perjumpaan/pertemuan yang “luar biasa” antara Tuhan dan Jemaat dan Jemaat dengan Tuhan di ruang ibadah.

Definisi Operasional:

Definisi Yonas Muanley, Liturgi adalah aturan yang mengatur berlangsungnya pertemuan yang luar biasa, yaitu Tuhan bertemu dengan umat dan umat bertemu dengan Tuhan dengan dimensi Tuhan berbicara kepada umat yang ditandai dengan adanya bacaan Alkitab, renungan firman Tuhan dan umat-Nya meresponi pertemuan dengan Tuhan dengan dimensi turut serta/mengambil bagian dalam ibadah atau bertemu Tuhan dengan indicator: jemaat ikut serta dalam nyanyian/pujian kepada Tuhan, ada paduan suara, vokal group, trio, kuartet, adanya anggota jemaat mengambil bagian dalam doa, pengakuan iman, menjalankan persembahan, memberi persembahan, ada alokasi waktu untuk anggota jemaat memberi kesaksian secara narasi dan pujian, memberi persembahan dll. (Tuhan tidak dapat diatur kehadiranNya, tetapi yang kami maksudkan dengan aturan disini dalam pengertian ada saat Tuhan berbicara/diatur bacaan Alkitab dan renungannya, dan pemberian berkat (akhir kebaktian) dan ada saat manusia berbicara kepada Tuhan dalam suatu ibadah: melalui doa, pujian dll ini semuanya diatur tetapi bukan dalam arti pengaturan yang kaku)

Definisi ibadah berdasarkan fenomena ibadah:

Definisi Konseptual oleh Yonas Muanley. Ibadah Kristen adalah penyataan diri Yahweh sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya atau suatu tindakan ganda yaitu tindakan Yahweh kepada manusia dalam Yesus Kristus dan dalam tindakan tanggapan manusia melalui Yesus Kristus. (Oleh Hoon, lihat James F. White,Pengantar Ibadah Kristen, 2002 :7)
Ibadah Kristen adalah Gottesdienst, satu kata yang mencakup baik pelayanan Allah kepada manusia maupun pelayanan manusia kepada Allah. Atau Ibadah sebagai pelayanan Allah kepada jemaat dan Ibadah sebagai pelayanan Jemaat di hadapan Allah. (Ibid, hlm. 7)
Ibadah adalah tanggapan dari ciptaan kepada yang abadi. (hlm. 9)
Ibadah bukanlah pertama-tama bukanlah inisiatif manusia melainkan tindakan pendamaian Allah dalam Kristus melalui Roh-Nya. (Nikos A. Nissiotis, teolog ortodox). Baginya Ibadah tidah lain memahami kehadiran dan tindakan Allah trinitas dalam ibadah.
Banyak perdebatan tentang ibadah dalam tahun-tahun terakhir ini berkisar di sekitar pertanyaan, yang salah satunya: Haruskah ibadah itu merupakan persembahan bakat-bakat dan rasa seni kita yang terbaik kepada Allah meskipun dalam bentuk-bentuk yang tidak cocok atau tidak dapat dimengerti oleh orang banyak?

Ibadah Jemaat adalah suatu pertemuan, pertemuan antara Allah dan jemaat dan Jemaat dengan Allah.
Oleh karena itu ibadah harus berlangsung dengan sopan dan teratur. Ibadah harus dipersiapkan dengan baik, karena ibadah jemaat adalah pertemuan luar biasa yaitu jemaat datang ke kebaktian untuk bertemu Tuhan secara bersama-sama/persekutuan dan sebaliknya Tuhan bertemu dengan jemaat. Jadi liturgy dan ibadah harus mencerminkan pertemuan “luar biasa itu”
Persiapan ibadah disini menyangkut semua unsure: Pembacaan Alkitab, Khotbah, Doa, Nyanyian. Persiapan yang kurang memadai akan menyebabkan suasana ibadah menjadi tidak tertib, membuat jemaat marah, jengkel dll.
Apa yang terjadi/dilakukan dalam Ibadah Kristen

Dari TUHAN:

TUHAN berbicara melalui Firman-Nya
Firman-Nya dijelaskan dalam budaya sekarang: Khotbah
TUHAN memberi berkat melalui penunpangan tangan Pendeta Simbol berkat)
Dari umat-Nya:
Memberi salam kepada sesama anggota jemaat
Mengaku dosa
Menyany lagu-lagu rohani/memuji Tuhan
Menyembah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran
Paduan Suara (PS)
Grup Voka/Vokal Grop
Trio
Duet
Kuartet
Mengaku Iman Percaya (Tempatnya: sebelum khotbah/awal ibadah; sesudah khotbah; sebulum menerima berkat
(Akhir ibadah)
Memberi ucapan syukur
Berbahasa Roh
Menyanyikan nyanyian baru
Bermazmur
Mendengarkan Tuhan berbicara
Berdoa
Membaca Alkitab
dst
Kesimpulan:
Berdasarkan uraian pengertian liturgy dan ibadah maka dapat disimpulkan bahwa yang kita maksudkan dengan liturgy ibadah adalah system/perangkat teologis yang mengatur secara harmonis, serasi antara jemaat yang berkumpul dalam mewujudkan tanggapan timbal balik antara Allah kepada jemaat dan antara jemaat kepada Allah. Dengan kata lain liturgy dalam konteks ibadah diartikan sebagai suatu system teologis yang mengatur berlangsungnya tanggapan umat-Nya secara bersama-sama terhadap penyataan/kehadiran Allah dalam Yesus Kristus pada saat jemaat berkumpul dan beribadah.

2. Dasar-dasar Alkitabiah liturgika

Perjanjian Lama
Ayat-ayat dalam PL tentang Liturgi
Yes. 44:12
II Raj. 15:16

Perjanjian Baru
Ayat-ayat PB tentang Liturgi
Lukas 1:23, Ibrani 9:21, 10:11
Ibrani 8:2, 8:6
Roma 15:16
Filipi 2:17
Ibrani 1:7,14
Roma 13 :6
Roma 15:27; II Kor. 9:12; Fil. 2:25; 2:30; 4:18
Kis. 13:2
3.Pendidikan Liturgi dalam Gereja

3.1. Liturgi yang sejati

Liturgi yang sejati adalah liturgy yang dilakukan Kristus.
Maka liturgy sejati yang dapat dilakukan oleh jemaat adalah:
1.Liturgi yang tidak dapat dipisahkan dari persekutuan (= Wujud Gereja Kristus)
2.Liturgi yang tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan Injil Yesus Kristus.
3.Liturgi yang tidak dapat dipisahklan dari kesaksian Kristen.
4.Liturgi yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan Gereja ke dunia
Jadi liturgy yang sejati adalah adalah liturgy yang mendapat tempat di Gereja, dan liturgiu yang menjalankan peran dan fungsinya dari gereja ke dunia.

3.2. Pendidikan Liturgi dan perencanaannya dalam pelayanan jemaat
Bila kita bertanya kepada anggota jemaat tentang apa arti liturgy maka mereka akan menjawab liturgy dalam pengertian tata ibadah, namun bila kita kembali pada pengertian liturgy yang telah kita bahas, maka liturgy mempunyai arti yang luas. Intinya liturgy adalah pelayanan maka dalam konteks pengertian ini kita harus menuntun/membimbing jemaat dengan cara memberi pendidikan liturgy dan merencanakan liturgy yang berfungsi dalam pelayanan Gereja.
Pendidikan liturgy dan perencanaannya dalam pelayanan jemaat yang kami maksudkan disini atau pendidikan liturgy kepada warga jemaat hendaknya berkisar pada:

1.Ungkapan manusiawi.

Dalam ibadah Kristen umat yang berkumpul mengungkapkan sikap iman akan rahasia Allah secara manusiawi melalui:
Kata-kata
Seluruh tata tubuh
Seluruh tata ruang
Seluruh tata benda kita
Melalui keheningan/saat teduh
Pokok-pokok ini diusahakan dalam liturgy untuk kemuliaan Tuhan.
2.Bahasa: Dalam liturgy, bahasa manusia merupakan cara pengungkapan yang paling konkrit. Oleh karena itu Gereja telah, sedang dan akan menciptkan dan mengembangkan bahasa liturgy-ibadah yang indah, bermutu, dan tahan zaman.
3.Pengungkapan diri perlu dilatih dalam hal:
Berbicara : Keras, perlahan (intonasi) dst.
Bernyanyi : Satu suara, keras, lembut dst.
Berdoa : Kerangka doa/struktur doa (lihat kerangka doa
Bapa Kami
Dll
4.Perencanaan liturgy dalam pelayanan jemaat

Perencanaan liturgy yang dimaksud disini meliputi:
1.Pemahaman anggota jemaat tentang Gereja sebagai persekutuan; penyaksi Injil Yesus Kristus; Pelayan dunia; dll
2.Pemahaman anggota jemaat tentang Gereja sebagai persekutuan yang beribadah
3.Pelayanan Firman Allah dan Sakramen
Pelayanan Firman Allah seperti: Khotbah; PA dll
Sakramen: Perjamuan Kudus dan Baptisan
4.Liturgi ibadah Minggu dan unsure-unsurnya.
5.Peran petugas-petugas liturgy dalam ibadah Minggu: MC, Pemimpin Pujian, Pembawa Kolekte, Pembawa Doa syafaat dll.

4 Prinsip-prinsip Teologis Liturgi Gereja
Yang kami maksudkan dengan prinsip-prisip teologis liturgy Gereja adalah kebenaran teologis yang terkandung dalam liturgy Gereja. Pokok kita bagi menjadi dua bagian: Teologi liturgy Gereja dan liturgy sebagai pangkalan pembaharuan kehidupan Gereja. Dua pokok ini diuraikan sebagai berikut.

4.1 Teologi Liturgi Gereja
Berpusat pada Alkitab: Alkitab adalah sumber utama penyusunan liturgy ibadah Gereja. Alkitab memiliki kewibawaan yang tertinggi (Absolut) dari liturgy. Liturgi harus melayani Alkitab.
Norma Praktik Apostolik: Pembuatan atau penyusunan liturgy pada masa kini atau masa yang akan dating hendaknya mencontohi atau mempertimbangkan liturgy (tata ibadah) yang pernah dipakai dalam Gereja abad pertama, dimulai dengan zaman para rasul – abad pertengahan – zaman Reformator – Gereja sekarang.
Kemahakuasaan Allah: Liturgi Gereja (atau liturgy yang kita buat) tidak boleh dipatok atau menjadi ukuran kehadiran Tuhan, sebab Tuhan Maha Kuasa, Maha Hadir. Dalam hal ini liturgy iabadah Gereja tidak dapat mengikat kehadiran TUHAN. TUHAN hadir dalam ibadah Gereja karena kehendak-Nya (Janji-Nya: dimana satu dua orang berkumpul disitu Aku hadir) dan sambutan akan kehadiran-Nya atau jalannya pertemuan tersebut diresponi umat-Nya dengan suatu system teologis (liturgy ibadah) yang mengatur tertibnya pertemuan tersebut. Pertemuan yang kami maksudkan disini adalah pertemuan antara TUHAN dengan umat-Nya dan umat-Nya dengan TUHAN (lihat definisi ibadah)
Restorasi penggunaan waktu secara tepat
Gereja Kristen mengenal beberapa waktu perayaan:
1. Minggu Adven : 4 Minggu sebelum Natal (25 Desember)
2. Hari Natal : 25 Desember
3. Hari Sengsara : 7 Minggu sebelum kematian
4. Hari Kematian : Jumat Agung
5. Hari Paskah : Hari Minggu
6. Hari kenaikan ke Sorga : 40 hari setelah Paskah
7. Hari Pentakosta : 50 hari setelah Paskah
Firman dan Perjamuan Kudus (PK) selaku Kebatian Normatif: Ada tempat bagi pemberitaan Firman Tuhan dan Perjamuan Kudus dalam liturgy ibadah Gereja. Gereja pada awalnya melakukan PK dalam ibadah Minggu tetapi dalam perkembangan selanjutnya PK dipisahkan atau diadakan tersendiri.
Pembaharuan partisipasi Umat/Jemaat: Pembuatan liturgy mesti memberi tempat untuk partisipasi umat dalam liturgy ibadah termasuk ibadah Minggu. Pendeta tidak boleh monopoli ibadah dari awal sampai berakhir ibadah tanpa melibatkan warga jemaat dalam ibadah tersebut. Misalnya mulai dari Votum-salam, nats pembimbing, doa syafaaf, doa persembahan dan doa berkat semuanya diborong oleh pendeta. Hal ini harus dihindari karena ibadah sesuai definisi terdahulu yaitu pertemuan Tuhan dengan jemaat dan Jemaat dengan Tuhan. Maka jemaat juga harus mengambil bagian dalam pertemuan tersebut (pendeta adalah bagian dari umat-Nya yang sedang beribadah, memang pendeta sesuai jabatan Gereja mempunyai hak memimpin pelayanan mimbar, sakramen dll tetapi itu tidak berarti pendeta mengambil alih seluruh bagian dalam liturgy ibadah)
Jadi jemaat harus mendapat kesempatan untuk turut ambil bagian dalam ibadah jemaat: bukan saja dalam nyanyian-nyanyian, tetapi juga dalam doa, (=syafaat), dalam pengakuan dosa, dalam pengakuan iman, dalam pembacaan Alkitab dan lain-lain. Peranan pendeta dalam ibada bukan sebagai solois, tetapi sebagai dirigen.
Kontekstual: Liturgi ibadah harus menyapa umat dalam konteks budayanya. Oleh karena itu liturgy ibadah harus kontekstual. Liturgi tidak boleh membuat jemaat yang hadir merasa terasing dari budayanya. Ukurannya adalah melalui budaya Kristus dimuliakan dan bukan sebaliknya melalui budaya Kristus tidak dimuliakan. (Damamaim, 1993:64-67)

4.2 Liturgi sebagai pangkalan pembaharuan kehidupan Gereja
Mungkin kita bertanya apakah liturgi dapat dijadikan sebagai pangkalan pembaharuan kehidupan Gereja? Jawabnya ya. Jika demikian apa yang dilakukan dalam kaitan dengan liturgy yang olehnya menjadi pangkalan pembaharuan kehidupan jemaat?. Pembaharuan sebagaimana yang kita maksudkan akan tercapai bila dalam liturgy itu ada:
1.Pemberitaan firman Tuhan (Gereja memberitakan Firman Tuhan)
2.Memperhatikan persekutuan (Gereja yang tidak menjauhkan diri dari persekutuan)
3.Gereja yang melayani (Gereja mengadakan pelayanan)
Dengan kata lain liturgy sebagai pangkalan pembaharuan gereja bila didalamnya ada: Kerugma, Marturia, Koinonia,
Jadi bila unsure-unsur ini ada dalam liturgy ibadah maka akan terjadi pembaharuan jemaat.

5.Prinsip-prinsip Filosofis-Teologi berGereja
Hari Minggu bagi orang Kristen adalah hari ibadah, pada hari Minggu kegiatan kantor pemerintah diliburkan kecuali di negara-negara Islam. Disini kita lihat salah satu pengaruh keputusan kaisar Konstantinus Agung tahun 313 Masehi yang menjadikan hari minggu sebagai hari libur resmi di kekaisaran Romawi pada waktu itu, yang selanjutnya berpengaruh pada perhitungan kalender Internasional. Namun perlu kita ketahui bahwa hari Minggu sebagai hari ibadah dimulai oleh para rasul yang memilih beribadah pada hari kebangkitan Kristus, yaitu hari Minggu. Jika demikian bagaimana konsepsi hari minggu bagi kita? Berikut ini beberapa konsepsi tentang dimemsi hari Minggu.
1.Hari Minggu adalah Hari tentang Masa Lampau, Sekarang dan Masa Depan orang Kristen. Artinya Kristus telah berkorban bagi kita masa lampau Kristus telah berkorban/menyelamatkan kita dari dosa, penebusan-Nya itu masih berlaku bagi kita sekarang, dan penebusan Kristus memberi masa depam bagi kita di Sorga.
2.Hari Minggu adalah Hari Tuhan dan Sabat. Hari Minggu tidak identik dengan Hari Sabat Yahudi. Ada perbedaan dari sisi waktu antara Sabat dan Minggu, yaitu Sabat adalah hari ketujuh, sedangkan hari Minggu adalah hari pertama. Tetapi esensi hari Sabat dan Minggu sama, yaitu beribadah kepada TUHAN
3.Hari Minggu adalah Hari bagi Gereja. Pada hari Minggu orang Kristen dari berbagai denominasi mewujudkan esensi Gereja itu, yaitu persekutuan. Dalam persekutuan tersebut bersatu atau berkumpul anggota gereja dari berbagai suku bangsa. Dalam persekutuan ini gereja mewujudkan demonstrasi isi kesaksian Gereja, yaitu bersaksi dan melayani.
4.Hari Minggu adalah Hari Kasih. Dalam ibadah Minggu warga jemaat mempersembahkan persembahan kasih yang mereka miliki, baik persembahan persepuluhan dan persembahan khusus. Persembahan adalah syukur kepada Tuhan yang memberi tanah dan berkat, sekaligus pelayanan kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim piatu, para janda (Ul. 26:13)
5.Hari Minggu adalah Hari Suka Cita. Hari Minggu adalah hari perayaan kebangkitan Kristus, hari kemenangan/hari suka cita kita karena Yesus Kristus telah memerdekakan/menyelamatkan kita dari dosa. Oleh karena itu tidak ada alas an untuk bersedih pada hari Minggu.
6.Hari Minggu adalah Hari Gambaran Perjumpaan di Rumah Bapa. Tidak ada hari yang dapat kita pakai untuk menggambarkan suasana pertemuan di Sorga atau di rumah Bapa selain Hari Minggu. Pada hari Minggu semua orang Kristen dari berbagai golongan umur, suku, tingkatan social dll berkumpul dan menjadi satu di rumah Gereja. Disini kita teringat dengan kata Yesus: di Rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Nanti di rumah Bapa semua suku bangsa akan berkumpul bersma Bapa di rumah Bapa.
Kiranya beberapa dimensi Hari Minggu ini mendorong kita untuk giat beribadah pada hari Minggu.
6.Unsur-unsur Liturgi Ibadah
6.1 Votum dan Salam
6.2 Pengakuan dosa, Pemberitaan Anugerah dan Hukum
6.3 Introitus/Nas Pembimbing
6.4 Pemberian Jemaat
6.5 Nyanyian dan Paduan Suara, Group Vokal
6.6 Sakramen
6.7 Pemberitaan Firman Tuhan/Khotbah
6.8 Doa
6.9 Nyanyian/doxology
6.10 Pengakuan Iman
6.11 Berkat

7. Jenis-jenis Liturgi yang mencerminkan Karya Allah, yang dijawab pujian,
pemberitaan, kesaksian dan pelayanan dalam dunia ini melalui kebaktian
7.1 Umum
7.2 Khusus/kategorial: Baptisan, PK dll
7.3 Hari raya
8. Lingkaran Liturgis dan Penataan Ruang Ibadah
8.1 Pengertian
Pertalian atau mata rantai liturgis penataan ruang ibadah biasanya disesuaikan dengan tradisi liturgy Protestan yang dianut. Kecendrungan penggunaan sarana-sarana liturgy dan penempatannya dalam ruang ibadah sangat dipengaruhi oleh salera atau warisan teologi yang dimiliki. Tradisi Reformasi lebih mengutamakan pemberitaan Firman Allah dalam ibadah, sehingga mimbar menempati posisi yang penting. Namun ini tidak berarti yang lain tidak penting. Semua sarana dalam ruang ibadah mempunyai makna fungsional maupun simbolik dalam tatanan liturgy gereja. Sarana-sarana liturgy gereja yang kita maksudkan seperti: mimbar, peti persembahan, bejana baptisan Kudus, meja dan alat-alat Perjamuan Kudus. Semua sarana ini harus dipersiapkan dengan baik.
Jadi lingkaran liturgis yang dimaksud disini adalah suatu system yang menggambarkan keutuhan wawasan liturgy gereja baik secara konsepsioanl maupun secara fisik yang real.
2.Tata Cara Penataan Ruang Ibadah dalam Lingkaran Liturgis
Beberapa pengaturan sarana-sarana liturgy dalam ibadah dapat dituturkan sebagai berikut:
1. Penataan Mimbar
Mimbar dalam liturgy ibadah Protestan memiliki makna simbolik yang paling kuat. Berdasarkan pandangan Protestan bahwa pemberitaan Firman Tuhan, harus lebih diutamakan dalam liturgy. Oleh karena itu dalam liturgy Protestan mimbar memiliki makna simbolis dari gereja sebagai gereja yang memberitkan Yesus Kristus. Fungsi mimbar dalam ibadah Protestan adalah berfungsi untuk tugas marturia Gereja. Artinya melalui mimbar Firman Allah diberitakan kepada kepada jemaat. Oleh karena itu maka mimbar selalu ditempatkan di bagian tengah ruang ibadah.
2.Bejana Baptisan
Bejana baptisan menjadi symbol dari gereja yang membaptis dalam lingkaran liturgy Gereja. Oleh karena itu Bejana Baptisan diletakkan disebelah kanan Mimbar.
3.Penataan Meja dan Alat Perjamuan Kudus
Meja dan alat-alat Perjamuan Kudus menjadi symbol dari Gereja yang menata persekutuan. Roti dan cawan itu disampaikan begitu rupa, sehingga jemaat didorong dalam tindakan memuliakan Allah. Dalam hubungan dengan itu, maka meja dan alat-alat Perjamuan Kudus diletakkan di sisi kiri dari mimbar.
4.Penataan Meja Tempat Persembahan.
Meja tempat persembahan melambangkan gereja yang mengucap syukur kepada Tuhan dengan harta milik-Nya serta sumber daya yang dianugerahkan Tuhan. Dalam konteks pemahaman ini maka meja tempat persembahan ditempatkan di depan jemaat.
5.Penataan Posisi para pendukung liturgys dan pelayan liturgis
Para pendukung liturgy menempati posisi samping kiri dan kanan mimbar sebagai symbol kemitraan Pendeta dan Jemaat
Peran-peran pelayan liturgis yang dilakukan adalah: Pendeta sebagai wakil umat sedangkan Diaken sebagai Pelayan umat dalam Liturgi Gereja. Demikian juga halnya dengan koster dan kolektan. Para kolektan sebagai pelayan liturgis yang mengumpulkan persembahan umat dapat menempati posisi samping meja persembahan, umat dapat menempati posisi samping meja persembahan. Karena secara fungsional mereka adalah symbol dinamis dari meja persembahan sebagai gereja yang mengucap syukur.
Para kostor sebagai tenaga penunjang liturgis bertugas mengawasi kelancaran dan keamanan ibadah. Fungsi ini dilakukan secara fisik dengan kaki dan tangan baik di dalam maupun di luar, maka kostor juga sebagai pengawas dan penunggu. Untuk itu posisinya ditempatkan di depan pintu gerbang gedung gereja.
6.Para anggota Musik liturgy Gereja: Suara: PS, VG dan Istrumen: pemain organ, paduan suling, pianis dll posisinya di liturgy Gereja sesuai dengan fungsinya dalam liturgy gereja. Sebagai pengirim dan pemandu suara/pujian jemaat, maka posisinya harus berada di depan jemaat. Maksudnya adalah supaya mereka dapat berkomunikasi dengan jemaat dan pelayan ibadah.(Damamain, 1993:135-137).

9. Musik dalam liturgy Gereja
1 Arti Gereja
Penentuan arti musik Gereja didahului dengan pemaparan sederhana tentang pengertian Gereja. Gereja adalah orang yang dipanggil keluar. Yang pertama dipanggil adalah 12 murid-murid Yesus Kristus. Setelah pencurahan Roh Kudus, murid-murid menjadi rasul (artinya yang diutus) memberitakan Injil kepada orang berdosa. Sejak itulah gereja lahir. Jadi gereja lahir karena pemberitaan Injil. Ini berarti Gereja yang memperhatikan dan melaksanakan pemberitaan Injil Yesus Kristus akan menyebabkan Gereja lahir atau terus berkembang.
Pemahaman yang lebih sederhana tentang Gereja didefinisikan sebagai berikut: Gereja adalah orang yang bertobat dari dosa dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya dan yang berada dalam persekutuan bersama dengan orang beriman.
Gereja sebagaimana yang kita bahas ini terpanggil untuk bersaksi kepada dunia. Dan dalam rangka kesaksian inilah Gereja menggunakan musik.

2. Pengertian Musik Gereja
Dalam teori musik Gereja terdapat beragam definisi tentang musik Gereja. Penulis menghargai temuan kajian tersebut, namun penulis ingin berespon terhadap pikiran yang Tuhan beri kepadaku. Untuk itu definisi musik Gereja akan dirumuskan setelah membahas pengertian musik secara umum.
Pengerian Umum tentang musik
Berdasarkan beberapa sumber yang diteliti (riset pustaka) penulis mengemukakan lima pengertian umum tentang musik, yaitu:
1.Musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi atau mengahasilkan suara yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.
2.Musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu).
3.Musik adalah bunyi-bunyian yang menghasilkan nada yang teratur.
4.Musik adalah komposisi yang ditulis dalam bentuk not atau lagu.
5.Musik adalah suara atau serentetan suara-suara yang menyenangkan
Jadi musik terdiri dari: Musik suara/vokal dan Musik Instrumental: Piano, biola, Organ, Gitar dll, yang dapat dimainkan untuk mendatangkan atau menghasilkan bunyi/suara yang teratur atau harmonis (Muanley, 2004:2)
Beberapa contoh penggunaan kata musik dan pengertiannya sebelum merumuskan pengertian tentang Musik Gereja. Contoh yang kami maksudkan dipaparkan sebagai berikut:
1.Musik Hidup, yaitu musik dengan instrumen yang dimainkan (bukan rekaman).
2.Musik Ilustrasi, yaitu musik yang dipergunakan sebagai pengiring di film, drama, iklan dsb.
3.Musik Kaset, yaitu musik yang direkam di kaset
4.Musik Keras, yaitu musik popular dengan tekanan irama berat. Biasanya dimainkan pada instrumen elektronik dengan pengeras suara.
5.Musik Pop, yaiu musik dengan irama yang dikenal dan disukai orang banyak atau disukai umum (Muanley, 2004:2)

Pengertian Musik Gereja
Berdasarkan definisi dan contoh penggunaan musik yang telah dibahas di atas maka dapat dirumuskan bahwa: Musik Gereja adalah bunyi-bunyian (suara manusia dan suara instrumen/alat ) yang teratur atau harmonis untuk memuliakan TUHAN.(Muanley, 2004:1-2)
Nilai Musik Gereja
Nilai musik Gereja yang dimaksudkan disini bukan pada harga musik tetapi lebih kepada fungsi atau kegunaan musik Gereja. Nilai musik Gereja ditentukan oleh esensinya pada relasi yang harmonis dengan TUHAN. Maka dalam kaitan itu kita segera merumuskan beberapa nilai Musik Gereja.
1.Musik Gereja harus bernilai estetika –teologis, yaitu mempengaruhi aspek estetika manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan sesamanya.
2.Musik Gereja harus memiliki nilai paedagogis-teologis yang bertahan zaman, kontekstual/fungsional
3.Musik Gereja harus memiliki nilai misiologis-teologis, yaitu membawa pesan kepada pendengar sehingga pendengar menyadari kebutuhan esensialnya (seperti kebutuhan pertobatan, kebutuhan pelaksanaan misi Kristus, kebutuhan memuji Tuhan dst.)
4.Musik Gereja harus memiliki nilai dinamika pengusiran kuasa setan yang membelenggu manusia
5.Musik Gereja harus memiliki nilai penghiburan zion (penghiburan ilahi) di hati manusia (Muanley, 2004:3)
Berdasarkan pembahasan yang cukup panjang tentang musik Gereja di atas maka Musik Gereja atau Musik Liturgi Gereja adalah musik yang dipakai baik dalam pengertian vokal dan instrumen dalam persekutuan Gereja demi pelayanan dan kesaksian Gereja. Musik Gereja dapat digolongkan atas musik vokal dan musik instrumental. Musik vokal adalah musik yang terbentuk dari suara manusia sedangkan musik instrumen adalah musik yang terbentuk dari bunyi/suara instrumen, seperti suling, gitar, piano.
Jadi musik Gereja dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) musik berupa vokal seperti : Nyanyian jemaat, pujian penyembahan, nyanyian baru (unsur yang ditemui dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia atau Gereja-gereja yang seasas) vokal Group, Paduan Suara, Solo, Trio dan lai-lain. Musik Gereja berupa Instrumen seperti: Gitar, Piano, Suling dll.

9.2 Citra dan fungsi musik Gereja
Penggunaan Musik Gereja mempunyai citra dan fungsi yang berbeda dengan citra dan fungsi musik pada umumnya maupun pada agama lain. Selanjutnya citra dan fungsi Musik Gereja dalam bahasan ini kita bagi dalam dua musik Gereja: 1) Nyanyian Jemaat/musik jemaat. 2) Paduan Suara/musik Paduan Suara. 3) Kelompok Vokal/Vokal Group. 4) Solo, Trio dan Kuartet.

Fungsi Nyanyian Jemaat:

1.Nyanyian Gerejawi adalah jawaban ucapan syukur atau puji-pujian jemaat atas karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus (J.L.Ch. Abineno,1986:89-94)
2.Nyanyian Jemaat/musik Gereja berfungsi untuk media pemberitaan tentang perbuatan-perbuatan TUHAN dalam Yesus Kristus
Jadi Nyanyian Gerejawi atau musik Gerejawi mempunyai aspek kembar. Pada satu sisi nyanyian Gereja atau musik Gereja adalah wahana pemberitaan Firman Tuhan, pada sisi lain Nyanyian Gereja atau musik Gereja adalah alat yang diberikan kepada jemaat untuk mengaminkan pemberitaan itu. Aspek kembar inilah yang membedakan nyanyian atau musik Gerejawi berbeda dengan nyanyian-nyanyian lain atau musik-musik lain.
3.Nyanyian Gereja/musik Gereja berfungsi untuk memanggil atau menantang anggota-anggota jemaat itu sendiri. Perbuatan-perbuatan Allah yang besar itu tidak hanya disyukuri dan diberitkan tetapi perbuatan-perbuatan Allah yang besar itu mesti didemonstrasikan secara nyata oleh warga Gereja.(Damamain, 1993:144-146)

Fungsi Paduan Suara
Paduan suara perlu dibedakan dengan nyanyian Jemaat, sebab paduan suara hanya terdiri dari beberapa orang dalam persekutuan ibadah jemaat. Anggota Paduan Suara tergolong anggota jemaat tetapi tidak menampakkan citra diri jemaat secara utuh dan juga mereka tidak mewakili jemaat. Ibadah yang diadakan adalah ibadah jemaat, dan dalam ibadah jemaat Paduan Suara diberi tempat, karena ia mempunyai fungsi dan peran tertentu. Tetapi hendaknya diingat bahwa Paduan Suara tidak boleh mengambil alih kedudukan dan peranan jemaat secara menyeluruh dalam ibadah. Artinya jangan sampai dalam ibadah tertentu dimonopoli oleh Paduan suara atau vokal group karena terlalu banyak padauan suara yang mengisi di acara kebaktian.
Jadi fungsi paduan suara dalam ibadah jemaat adalah:
1.Paduan Suara berfungsi sebagai pendukung nyanyian jemaat/musik jemaat
2.Paduan suara berfungsi sebagai wahana pemberitaan firman Tuhan
3.Paduan Suara berfungsi utuh sebagai bagian utuh dari jemaat (bukan mewakili jemaat untuk mempersembahkan puji-pujian, doa, pengakuan iman dan lain-lain kepada Tuhan dlam suara/musik yang merdu.(Damamain, 1993:146-147)

Vokal Group, Solo, Duet, Trio, Kuartet
Citra dan fungsi vokal group juga sama dengan citra dan fungsi paduan suara dalam ibadah jemaat. Tetapi perlu diingat bahwa ibadah jemaat jangan diambil alih oleh vokal group. Maksudnya jika banyaknya vokal Group yang mengisi pujian dalam ibadah jemaat maka perlu diatur sehingga jangan sampai memonopoli pujian jemaat dalam ibadah, artinya jemaat tidak mempunyai cukup waktu untuk meresponi pertemuan dengan Tuhan dalam ibadah yang berlangsung (Damamain, 1993:147)
Dengan kata lain penggunaan musik dalam Gereja harus mempunyai nilai bagi anggota jemaat maupun sesama yang belum percaya kepada Yesus Kristus.Nilai musik Gereja yang dimaksudkan disini bukan pada harga musik tetapi lebih kepada fungsi atau kegunaan musik Gereja. Nilai musik Gereja ditentukan oleh esensinya pada relasi yang harmonis dengan TUHAN. Maka dalam kaitan itu kita segera merumuskan beberapa nilai Musik Gereja.
1.Musik Gereja harus bernilai estetika –teologis, yaitu mempengaruhi aspek estetika manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan sesamanya.
2.Musik Gereja harus memiliki nilai paedagogis-teologis yang bertahan zaman, kontekstual/fungsional
3.Musik Gereja harus memiliki nilai misiologis-teologis, yaitu membawa pesan kepada pendengar sehingga pendengar menyadari kebutuhan esensialnya (seperti kebutuhan pertobatan, kebutuhan pelaksanaan misi Kristus, lebutuhan memuji Tuhan dst.)
4.Musik Gereja harus memiliki nilai dinamika pengusiran kuasa setan yang membelenggu manusia
5.Musik Gereja harus memiliki nilai penghiburan zion (penghiburan ilahi) di hati manusia (Muanley, 2004:3)
9.3 Cara bernyanyi dalam Gereja
Cara bernyanyi yang dikenal di Gereja sepanjang masa, ada 4 macam, yaitu:
1.Cara bernyanyi Unisono (cara unisono), yaitu jemaat menyanyi dengan satu suara atau semua peserta ibadah menyanyi serentak dalam satu suara.
2.Cara Responsoris, yaitu cara bernyanyi berbalas-balasan antara seseorang (bias pemimpin ibadah, bias solois) dengan anggota-anggota jemaat. Bernyanyi secara responsoris dilakukan antar baris dalam setiap ayat.
3.Cara Bernyanyi Antifonis, yaitu cara bernyanyi berbalas-balasan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam suatu ibadah Gereja. Caranya satu kelompok menyanyikan baris satu, kelompok yang lain menyanyi baris kedua dan baris-baris berikutnya dinyanyikan secara bergantian menurut pola sebelumnya. Atau kelompok yang satu menyanyikan bait atau ayat 1, kelompok yang lain menyanyikan bait atau ayat 2 dan bait-bait berikutnya dinyanyikan menurut pola sebelumnya.
4.Cara Bernyanyi Kanon, yaitu cara bernyanyi secara beruntun. Setiap kelompok dalam ibadah jemaat menyanyikan nyanyian yang sama secara beruntun atau dalam waktu yang tidak bersamaan. Misalnya dibagi kelompok Wanita dan Pria yang bernanyi secara beruntun. Wanita menyanyi baris pertam, selanjutnya Pria baris pertama tetapi dalam waktu yang tidak bersamaan (Damamain, 1993:151-152)

10. Roh Kudus dan Seni Bangunan Gereja

1 Roh Kudus dan Seni Bangunan Gereja
Dalam Roh Kudus gereja dituntut untuk mengungkapkan bentuk kehidupan Kristennya dalam merancang bangun dan menata ruang kebaktiannya menjadi alat pelayanan yang fungsional dan efektif. Di dalam kuasa Roh Kudus kita dituntut untuk memngembangkan daya imajinasi dan kreatifitas kita tetapi sekaligus mengubah jiwa kita untuk bersesuaian dengan kehendak Allah. Ini berarti setiap yang terlibat dalam pembangunan rumah gereja memberi diri kepada Roh Kudus yang memberi daya ilham serta motivasi dan kemampuan untuk melaukan tugas kita di bidang seni bangunan gerejawi. (Damamain, 1993:127)

2 Deskripsi umum tentang Seni Bangunan Gereja sebelum dan sesudah Reformasi Gereja
Jemaat Perdana sebagaimana yang disaksikan dalam PB tidak mempunyai tempat ibadah sebagaimana pengalaman kita lakukan sekarang. Mereka beribadah dari rumah ke rumah secara sembunyi-sembunyi karena persekutuan Kristen pada waktu itu dilarang oleh pemerintah Romawi.
Gereja memiliki tempat ibadah sendiri setelah tahun 380, yaitu ketika kaisar Theodosius Agung menjadikan Kristen sebagai agama negara Romawi. Sejak saat itu timbullah kebutuhan untuk membangun rumah Gereja yang umum dan besar. Bangunan Gereja pada waktu itu umumnya berbentuk “Basilica” (“serambi Rajawi”/rumah mewah). Gedung Gereja yang berbentuk Basilica terdiri dari dua sisi luar dan satu sisi dalam yang lebih tinggi. Sisi bangunan dalam Gereja diterangi oleh jendela-jendela yang yang ditempatkan di bagian atas dari gedung. Ruang Gedung Gereja ditutup oleh suatu absis yang setengah bulat. Uskup duduk di tahtanya di dalam absis dan dari sana ia berkata-kata kepada jemaat. Bagian tengah gedung Gereja terdapat mezbah atau meja perjamuan, yang dilindungi suatu pagar terhadap anggota-anggota jemaat yang berdesak-desakan di mukamya. Pelayanan Perjamuan Kudus dilayani oleh Uskup di situ. Ruang perayaan Perjamuan ditutup dengan tirai (=gordin).
Sesudah abad ke IV Gedung Gereja berbentuk Basilica dikenal juga di Siria dan Asia kecil (Timur Tengah). Basilica-basilica di Siria dan Asia Kecil kadang-kadang mempunyai dua menara.
Disamping Basilica, bentuk bangunan yang lain adalah berbentuk “bangunan sentral” yang memakai kubah. Gedung-gedung ini kadang bersudut delapan, kadang berbentuk salib. Kadang juga bentuk bangunan gereja merupakan penggabungan dari bentuk sentral dengan bentuk persegi empat.
Sesudah tahun 1000 Masehi bentuk Gereja mengikuti bentuk “gaya Romanus”. Gedung Gereja model Romanus mengikuti gaya bangunan biara di Perancis. Cirinya yang menonjol adalah tembo-tembok gereja yang tebal.
Pertengahan abad XII muncul di Perancis bentuk bangunan Gereja “gaya Gotik”. Ciri-ciri bangunannya: tembok-temboknya tidak terlalu tebal tetapi menahan (=memikul) jendela-jendela yang lebih besar. Bangunannya tinggi menjulang. Bangunan gaya gotik ini dapat dilihat dalam bangunan Gereja Katedral.
Tradisi Reformasi tentang seni Bangunan Gereja
Para Reformator mengakui seni bangunan gerejawi namun menolak bentuk-bentuk lahiriah dari pengungkapan kepercyaan Kristen melaui seni membangun Gedung Gereja.
Menurut tradisi Reformasi, bentuk yang pertama yang diperoleh kepercayaan adalah kebaktian dan pemuliaan TUHAN. Yang kedua adalah hidup kesesuaian yang dipenuhi oleh perasaan syukur, dan yang ketiga adalah dalam bidang seni. Menurut Reformator, yang diutamakan dalam seni bangunan Gereja adalah factor keindahan tanpa pemborosan. Yang dipentingkan dalam seni bangunan dan penataan ruang ibadah adalah kebaktian dan pelayanan dengan berusaha menghindari pemborosan, dan bentuk materialisme secara lahiriah.(Damamain, 1993:126-128)
Bangunan Gereja di Indonesia umumnya adalah gedung-gedung yang panjang dan berbentuk segi empat. Ada pula bentuk-bentuk lain seperti gaya gotik seperti yang dimiliki gereja Katolik Indonesia, khususnya Gereja Katedral.

11. Pakaian Liturgi
1 Toga: Pro dan Kontra pemakaian toga sebagai pakaian jabatan Kebanyakan Gereja-gereja Protestan di Indonesia mengenal dan menggunakan semacam “pakaian jabatan” yang diambil dari gereja-gereja partner di Eropa dan Amerika. Pakaian jabatan yang dimaksud adalah “Toga” yang dipakai dengan “Bef” (=dasi putih) dengan atau tanpa stola (pita yang lebar dan panjang). Fungsinya tidak begitu jelas. Toga biasanya di pakai oleh mereka yang telah ditahbiskan dalam jabatan pendeta. Selanjutnya pakaian itu dipakai dalam setiap acara Ibadah Gereja.
Menurut Kuyper dan Gereja-gereja Reformasi di Belanda menolak pakaian jabatan (dihapus) dan digantikan dengan pakaian yang biasanya dipakai oleh semua orang, karena toga bukan pakaian Gereja atau pakaian liturgis atau pakaian pendeta.
Toga sebenarnya adalah pakaian biasa yang dipakai sarjana-sarjana Romawi pada waktu itu. Toga juga adalah pakaian orang Romawi. Tanpa toga maka orang merasa pakaiannya tidak lengkap dan karena itu tidak sopan. Kemudian toga terdesak dan hanya dipakai sebagai pakaian pesta atau pakaian jabatan. Toga kemudian dipakai sebagai pakaian akademis untuk maha guru dan mahasiswa atau pakaian jabatan hakim.
Pemakaiannya dalam Gereja Protestan, khususnya di Amerika, yaitu di Gereja Methodis dan Baptis. Di Nederland pemakaian pakaian jabatan gereja roma diganti dengan tabbet atau toga kemudian oleh keputusan Sinode tahun 1854 mengharuskan pendeta memakai toga dalam pelayanan Ibadah Gereja. Keputusan inilah yang berkembang ke Indonesia.
Pakaian jabatan atau toga yang telah kita bahas hanya berlaku di beberapa Gereja Protestan arus Calvinis, Lutheran, Anglican, Baptis tetapi di Gereja-gereja Pentakosta dan lainnya tidak memakai toga dalam pelayanan Gereja. Biasanya memakai Jas.
Jadi hal ini berpulang kepada masing-masing denominasi Gereja dengan Teologi yang dianutnya. Apakah memakai toga atau Jas/sejenisnya dalam pelayanan Gereja itu bergantung pada Gereja yang bersangkutan. Disini saran saya yaitu mari kita setia kepada aturan Gereja di mana kita di tempatkan untuk melayani. Jika Gereja tempat kita melayani mengharuskan kita memakai toga dalam pelayanan Gereja maka kita lakukan itu dengan kesadaran bahwa semuanya hanya untuk pelayanan kemuliaan Tuhan bukan memakai toga untuk sebuah kesombongan rohani. Sebaliknya jika kita berada di Gereja yang tidak mengharuskan kita memakai toga tetapi hanya memakai Jas atau pakaian yang biasa dipakai umum maka kita lakukan itu dengan kesadaran pelayanan kepada Tuhan tanpa harus mengejek atau menyindir kepada rekan kita yang memakai toga ataupun sebaliknya yang memakai toga tidak menyindir yang tidak memakai toga.

2. Jas atau pakaian yang biasa dipakai secara umum
Bagian ini disesuaikan dengan Gereja di mana kita melayani. Pengalaman kami dalam pelayanan pertukaran mimbar antar anggota PGI wilayah DKI menunjukkan ada Gereja yang mengharuskan memakai Toga sementara ada juga yang memperbolehkan memakai baju pendeta dengan bef dan Jas (Pengalaman saya di salah satu Jemaat Gereja Methodis wilayah Jakarta Pusat), sementara di HKBP dan GPIB saya harus memakai Toga, bef dan Stola. Memang Gereja dimana saya melayani yaitu GKSI mengenal pakaian Toga, bef dan stola. Tetapi dalam pelayanan Gereja tidak mengharuskan memakai Toga, kecuali dalam ibadah sakramen Perjamuan Kudus, Ibadah Pernikahan, Ibadah Pemakaman. Sementara dalam ibadah Minggu boleh dan tanpa toga dalam pelayanan mimbar.

3. Putih-Hitam (Pakaian PK)

Ada Gereja tertentu yang menjadikan pakaian warna putih dan hitam sebagai pakaian seragam dalam mengikuti sakramen Perjamuan Kudus. Tetapi di Gereja-gereja lain bias memakai pakaian biasa atau bukan hitam putih. Tidak ada kemutlakan untuk itu. Terserah kepada Gereja di mana kita melayani.

12. Suasana Ibadah
Jika kita masuk dalam gedung gereja untuk mengikuti ibadah maka suasana bagaimana yang kita rindukan?. Dalam ibadah sesuai definisi ibadah maka kita datang dalam sebuah pertemuan yang luar biasa yaitu pertemuan di mana Tuhan bertemu dengan jemaat dan jemaat bertemu dengan Tuhan. Lalu suasana apa yang kita inginkan dalam pertemuan itu.

Riemer mengusulkan beberapa suasana dalam ibadah berikut ini.

1 Sentosa (Maz. 122:6,7)
2 Diam (Maz. 131:2)
3 Kelegaan (Maz. 11:28-29)
4 Tunduk kepala, rendahkan hati (Maz. 95:6)
5 Keluh Kesah (Maz. 5:2,3)
6 Dengar (Maz. 81:9)
7 Segar (Maz. 23:2-3)
8 Muda dan Puas (Maz. 103:5)
9 Gembira dan musik (Maz. 43:4)
10 Terang (Maz.97:11)
11 Sorak-sorai (Maz. 100:2)
12. Menyanyi (Ef. 5:19; Kol. 3:16)
13. Marah (Maz. 6:2)
14. Angkat kepala (Maz.27:5-6; Maz,103:4)
15. Lucu/tertawa (Maz.126:2)
16. Bosan
17. Suam-suam kuku (Why. 3:16)
18. Dangkal (Yeh. 13:10-12) (G. Riemer, t.th.:47-53)

13. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam menyusun Liturgi Kontekstual
13. 1 Alkitab
Alkitab menjadi standar yang tidak dapat ditawar-tawar dalam menyusun sebuah liturgy. Artinya penyususnan liturgy harus mempertimbangkan ajaran Alkitab. Disini Ilmu Liturgi harus tunduk kepada Alkitab sehingga menjunjung tinggi senua unsure, semua petunjuk atau perintah yang diberikan Allah sendiri untuk ibadah masa kini. Unsur-unsur liturgy kontemporer yang akan kita buat mesti memperhatikan ajaran Alkitab.
13.2 Ajaran Gereja/Dogma
Dalam membuat liturgy, factor dogma Gereja juga turut mempengaruhinya. Artinya penyusun liturgy mesti memperhatikan dogma Gereja. Misalnya tentang ekaristi,

13.2 Ajaran Gereja/Dogma

Dogam atau teologi yang dimiliki seseorang atau kelompok penyusun liturgy kontemporer kontekstual turut menentukan dalam menyusun liturgy, dengan dogma yang dimiliki ia mampu mempertimbngkan hal-hal dalam kebudayaan setempat yang hendak dimasukkan dalam liturgy.
Disini dapat dikatakan bahwa liturgy Gereja mencerminkan dogma atau teologi yang dimilikinya oleh Gereja pembuat liturgy tersebut.

13.3 Persekutuan Gereja

Liturgi yang dibuat harus mempertimbangkan persekutuannya dengan Gereja-gereja lain yang seasas. Hal ini bertujuan agar jemaat yang seasas dapat mengikuti liturgy ibadah dengan baik di jemaat atau Gereja lain yang seasas ketika karena pekerjaan atau alasan lain berpindah ke tempat lain, dan disana ia dapat mengikuti ibadah dengan baik, dengan kata lain ia tidak menjadi orang asing dalam ibadah Gereja yang baru karena tata ibadahnya sama dan lagu-lagu yang dinyanyikan pun ia mengetahuinya.

13.4 Misioner

Penyusunan liturgy juga harus mempertimbangkan aspek missioner dari Gereja, yaitu pekabaran Injil. Setiap jemaat pada dasarnya adalah jemaat missioner. Artinya jemaat berminat untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada dunia di mana ia berada. Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa aspek missioner ini perlu diperhatikan supaya menolong jemaat untuk secara praktis berusaha menarik orang yang belum mengenal Kristus supaya masuk dalam Gereja. Jemaat dapat mendorong orang lain datang ke Gereja. Semuanya ini harus dipertimbangkan dalam penyususunan sebuah liturgy yang konetmporer dan kontekstual.(Riemer, t.th.: 32)

13.5 Kebudayaan

Salah satu aspek yang krusial dari zaman ke zaman adalah liturgy ibadah dan kebudayaan. Dikatakan rumit karena bentuk liturgy ibadah di Yerusalem, Korintus, di Roma dan Jakarta pasti berbeda karena perbedaan kebudayaan. Dengan kata lain ada pengaruh kebudayaan yang kuat terhadap suku bangsa atau orang yang menerima Injil. Jika demikian haruskan penyesuaian dengan kebudayaan setempat? Hal ini menjadi pergumulan sepanjang zaman, dan itu biasanya dibicarakan dalam Liturgi dan Kebudayaan, yang didalamnya dibahas istilah-istilah yang terkait seperti: akulturasi, inkulturasi, kontekstualisasi, possesio, dsb. (Riemer, t.th.33). Tetapi factor kebudayaan menjadi aspek penting dalam pembuatan liturgy. Dikatakan penting karena alas an fungsionalitas dari Liturgi tersebut. Artinya liturgy ibadah Gereja hanya dimengerti dan diikuti secara baik oleh anggota Gereja bila kebudayaan dari jemaat yang sedang berbakti turut diperhitungkan tempatnya di dalam liturgy.
13.6 Etnologis dan antropologis
Faktor etnologis dan antropologis ini dilandasi oleh prinsip bahwa setiap bangsa mempunyai sifat yang berbeda. Misalnya emosi atau cara mengungkapkan emosinya dalam gerak-gerik, musik, cara bicara, cara berpikir, pandangan dunia, seperti pengaruh pandangan dunia adat yang masih mempengaruhi pengertian manusia akan penggunaan berbagai unsure kebaktian (Riemer, t.th. :33). Ini suku tertentu yang kesukaannya berkumpul dan menyanyi dengan nada tinggi dan merdu dengan atau tanpa cirri khas musik suku tersebut. Kelompok ini akan senang bila alat musiknya, irama musiknya diberi tempat dalam liturgy Gereja.
Dengan demikian maka aspek etnologi dan antropologi mesti diperhitungkan ketika hendak menyusun liturgy ibadah Gereja.

13.7 Dunia Gereja
Dunia gereja yang mempengaruhi penyusunan liturgy gereja adalah keadaan ekonomi Gereja. Jika keadaan ekonomi Gereja tidak baik maka Gereja tidak mungkin membeli alat-alat musik yang baik, ia hanya memakai apa yang ada yang mungkin jemaat sudah jenuh dengan alat musik yang itu-itu saja. Keadaan Gereja yang lain adalah keadaan iklim yang juga turut mempengaruhi Gereja. Keadaan lain yaitu keadaan politik, jika Gereja dianiaya atau Gereja tidak aman maka akan mempengaruhi liturgy ibadah. Tetapi bila keadaan politik mendukung maka itu akan sangat baik untuk penyusunan liturgy ibadah Gereja.(Riemer, t.th. :34)
14. Buka mata, buka hati, luaskan cakrawala terhadap Teori Liturgi Kreatif Model
Wim Davidz sebelum ke Desain Liturgi Gereja oleh Mahasiswa

6.Liturgi (Kreatif) dan komunikasi: 6 pokok bahasan. Lihat lampiran
7.Liturgi Kreatif: Menyangkut 5 pokok bahasan. ;lihat lmpiran. Lihat lmpiran
8.Pengamatan lapangan. Lihat lampiran
9.Mencipta sebuah liturgy melalui penjelajahan Kreatif. Lihat lampiran
15. Praktik Desain Liturgi Gereja dan eksperimennya dalam kelas.
Lituri Ibadah Umum
Liturgi Baptisan
Liturgi PK
Liturgi Pemberkatan Nikah
Litugi Pengucapan Syukur
Liturgi Ibadah Memasuki Rumah Baru
Dll
Unsur-unsur yang mungkin ada dalam latihan menyusun dan praktek liturgi ini atau kita berharap ada LITURGI KREATIF, unsurnya boleh seperti berikut atau unsure lain tetapi tetap mempertimbangkan Ibadah Kristen dengan sumber absolut yaitu Alkitab dan sumber-sumber lainny. Unsur-unsur lama yang diajukan:
1. Votum salam
2. Introitus (Nats Pembimbing)
3. Pengakuan dosa, Pemberitaan Anugerah dan hokum
4. Doa, Pembacaan Alkitab dan Khotbah
5. Pengakuan Iman
6. Persembahan Jemaat
7. Doa Syafaat
8. Berkat
Atau tentukan unsure-unsur liturgy sendiri tetapi harus ada alasan rasional dan alasan Alkitab
Previous Post
Next Post

About Author

0 comments: