Thursday, September 20, 2018

Sejarah Liturgi: Dari Yerusalem ke Eropa dan Indonesia


Sejarah Perkembangan Leiturgi (Tata Ibadah).[1]


Merujuk pada definisi liturgy dalam ilmu Teologi maka bahasan tentang sejarah perkembangan leiturgi hanya terfokus kepada liturgy dalam pengertian tata ibadah. Tata ibadah yang dimaksud adalah tata ibadah yang pernah dipakai oleh Gereja, baik Gereja mula-mula (30-590); Gereja abad Pertengahan (590-1492) yang dibagi lagi menjadi Gereja Katolik Barat dan Katolik Timur (Gereja Ortodoks) sejak tahun 1054 (lihat skisma Gereja dalam Sejarah Gereja); Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan (Perpecahan Gereja Barat menjadi: 1) Gereja Katolik dengan Paus di Roma dan 2)Gereja Protestan aliran Lutheran dan Gereja Protestan corak Calvin/Calvinisme. Kelompok Kristen yang disebut di sini masing-masing mempunyai sejarah Liturgi atau tata ibadahnya yang dapat kita ikuti dalam beberapa literature Kristen. Sedangkan sejarah Leiturgi dari Gereja-gereja lain seperti Baptis, Methodis, tidak kami cantumkan karena kami belum mendapatkan data tentang tata ibadah atau unsure-unsur yang dipakai dalam Gereja Baptis dan Methodis. Sedangkan liturgi Gereja Bethel Indonesia kami cantumkan berdasarkan amatan secara langsung (partisipasi langsung) dalam desain liturgi/tata ibadah dan praktek liturgy oleh mahasiswa program Ekstensi di ruang kelas kampus baru STTB The Way pada tanggal, 30 Agustus 2006 pukul 17.45-21.00. Dengan kata lain, pemaparan tentang sejarah liturgi/tata ibadah Gereja mula-mula, Gereja Abad Pertengahan, Gereja Katolik Roma dan Gereja Reformasi dapat kami sajikan berdasarkan kajian literature, sedangkan tata ibadah Gereja Bethel Indonesia kami ambil berdasarkan pengalaman praktik ibadah yang dilakukan mahasiswa seperti yang kami maksudkan di atas. Kami berusaha mencari informasi melalui literature di Perpustakaan, khususnya dalam buku pengajaran dasar Gereja Bethel Indonesia, namun kami tidak temukan. Mungkin informasi untuk tata ibadah ada dalam buku lain yang dikeluarkan Sinode GBI namun belum kami baca. Mudah-mudahan ke depan sudah kami temukan. Mungkin juga tidak tertulis (secara baku) karena dalam ibadah GBI ada yang memimpin berlangsungnya ibadah tersebut dengan konsepnya “mengalir” (berdasarkan tuntunan Roh). Artinya urutan dari setiap unsure-unsur (seperti: kata pembukaan ibadah, mengajak jemaat masuk dalam doa dst)dalam ibadah dari awal sampai akhir ibadah itu bergantung dari “WL” atas tuntunan Roh.
Jadi dari apa yang dikatakan di atas maka kita dapat memahami bahwa Gereja terus menerus bergumul dengan sebuat tata ibadah yang relevan dengan zamannya. Setiap Gereja, khususnya GBI mempunyai sejarah pergumululan liturgy yang cukup panjang. Sejarah tata ibadah Gereja-gereja ini mungkin harus dilihat dalam tata ibadah yang pernah dibuat oleh kelompok Ana Baptis yang kemudian berkembang ke tempat-tempat lain dengan sedikit atau banyak mengalami perubahan.

Baca Artikel: Perjuangan di Google Adsense

Secara pribadi saya mohon maaf karena saya ada dalam salah satu kebun atau taman akademis Gereja Bethel Indonesia yang saya cintai (walaupun saya dari organisasi Gereja lain yaitu Gereja Kristen Setia Indonesia) karena tidak banyak pembicaraan tentang sejarah liturgy atau tata ibadah yang berhubungan dengan Gereja Bethel. Kita berharap pada kesempatan akademis berikutnya sudah ditemukan Sejarah Liturgi Gereja-Gereja Ana Baptis.
Berikut ini kami paparkan sejarah Liturgi Gereja yang kami mulai dengan Liturgi Sinagoge yang unsurnya sedikit banyak diikuti oleh Liturgi Gereja Mula-mula (Liturgi Sinaxis). Sejarah Liturgi yang dimaksud dapat diuraikan berikut ini:

Liturgi Sinagoge (lih. Lampiran)
Unsur-unsur liturgi Sinagoge:

1. Syema
2. Doa
3. Pembacaan dari Tora dan pembacaan Kitab-kitab Para Nabi
4. Pengucapan Berkat: Oleh Imam


Keterangan beberapa unsure liturgy Sinagoge lihat lampiran


Menurut Riemer:
1. Doa-doa Pembukaan (doa delapan belas)
2. Pembacaan Gulungan Kitab Taurat (lih. Kis.13:14,15)
3. Nyanyian Mazmur
4. Pembacaan Gulungan Kitab Nabi-nabi
5. Pelayan Firman (Midrasy = Homilia)
6. Pengakuan Iman (Syema: Ul. 6:4)
7. Pujian/Sanktus (Yes. 6:3)
8. Berkat (Bil. 6:24-26). Selanjutnya lihat lampiran Liturgi Sinagoge
Liturgi Gereja Mula-mula (30 – 590)
Gereja mula-mula mengambil beberapa unsure dari liturgy Sinagoge dalam liturgy mereka yang disebut dengan liturgy Sinaxis.
Liturgi Sinaxis (Liturgi Gereja Purba)
Unsur-unsur liturgy Sinaxis:
1. Pembacaan Kitab Suci
2. Menyanyikan Mazmur
3. Berdoa


Keterangan Sinaxis lihat lampiran (secara manual)
Liturgi Yustinus Martyr (100 – 165 )

Unsur-unsur liturgi Yustinus Martyr:
1. Pembacaan Injil-Injil
2. Pembacaan Surat-surat Rasuli
3. Pembacaan Kitab-kitab Nabi
4. Homilia/Penjelasan Kitab Suci yang dibaca oleh Uskup sambil duduk
5. Ajakan untuk hidup sesuai dengan isi Kitab Suci yang telah dijelaskan (ajakan penerapan)
6. Berdoa bersama-sama sambil berdiri
7. Pembagian roti dan anggur
8. Doa Bebas
9. Pengaminan
10. Ekaristi
11. Kolekte (pemberian untuk orang miskin)
Liturgi Gereja Abad ke III


Unsur-unsurnya:
1. Pembacaan Perjanjian Lama
2. Pembacaan Kitab-kitab Baru (PB)
3. Homilia/Khotbah
4. Doa Jemaat dengan Doa Syafaat
5. Ciuman Kudus
6. Roti dan Cawan dibawa kepada Uskup
7. Pengucapan syukur (Doa Ekaristi)
8. Diaken-diaken membagi roti dan anggur
9. Nyanyian ditengah setiap unsure
Liturgi Gereja Abad Pertengahan (590 –1500)


Penulis membaginya menjadi dua:
Liturgi Gereja Katolik Timur (ortodox Timur)
Liturgi Yohanes Chrisostomos (menjadi liturgy Gereja Ortodox Timur yang berpusat di Bisantium)
Unsur Liturgi Yohanes Chrisostomos: dimulai di belakang dinding ikon-ikon (lukisan, gambar, patung) terletak di antara meja dan ruang tempat jemaat berkumpul.
Meja disiapkan. Doa litany dengan doa syafaat demi Gereja dan negara, kesuburan tanah, orang-orang yang menderita. Disusul nyanyian tiga Mazmur oleh Paduan Suara.
Pengakuan Dosa
• Doa agar berhikmat dan diterangi Roh Kudus
• Pemasukan kecil (Kitab-kitab suci dibawa masuk, diusung dengan tangan di atas kepala) dan nyanyian Trihagion: kudus-kudus-kuduslah Tuhan
• Pembacaan Taurat (suara rendah)
• Pembacaan Kitab Nabi-nabi (suara rendah)
• Pembacaan surat-surat (suara mulai naik pada setiap kalimat)
• Pembacaan Injil (suara mulai tinggi dan pada akhir berbunyi secara menyanyi; Jemaat berdiri pada waktu pembacaan Injil.
• Homilia (berbicara.bercakap-cakap)
• Doa Syafaat: Kaum Kristen; pejabat Gereja; peserta katekisasi
Doa Persiapan Meja
Nyanyian Mazmur 90 dengan pemasukan besar: roti dan anggur dibawa masuk
Saling berdoa syafaat: semoga Tuhan menjaga kami semua dalam kerajaan-Nya dan semoga Roh-Nya yang Kudus datang atas kamu.
Ciuman Kudus
Pembukaan pintu dalam dinding ikon-ikon
Pembacaan Kredo (Pengakuan Iman Necea)
Salam (II Kor. 13:13)
Doa Syukur Akbar
Benediktus: pengucapan syukur; kata penetapan Perjamuan Kudus.
Buatlah ini, yang sebenarnya adalah roti, menjadi tubuh Kristus yang dipuji dan buatlah isi cawan ini menjadi darah Kristus-Mu yang dipuji …
Doa-doa syafaat yang baru yang diakhiri dengan doa Bapa Kami
Uskup: yang kudus untuk orang kudus!
Jemaat: Satu adalah kudus, satu adalah TUHAN, Yesus Kristus
Komuni (Persekutuan: Perjamuan Kudus/Misa, yaitu makan bersama-sama). Sementara Mazmur 34 dinyanyikan (imam dan diaken menerima komuni ke depan, semua orang lain). Semua orang berjalan ke depan untuk menerima komuni harus berkata: “mari, saya menghadap Kristus … demi pengampunan dan hidup kekal.
Doa penutup
Jemaat menyanyi:
Amin, terpujilah TUHAN
Dari sekarang sampai selamnya (3 x)


Liturgi Gereja Katolik Barat (Gereja yang berpusat di Roma)


Unsur-unsurnya:


Persiapan
1. Prosesi ke gereja (beriring ke ruang gereja)
2. Mazmur Introitus (Nyanyian masuk) dengan Gloria mini
3. Masuknya pemimpin kebatian
4. Kirie eleison (doa litany)
5. Gloria Akbar (diangkat pemimpin, dijawab jemaat)
Pelayanan Firman
1.Salam dan doa rangkuman (menyimpulkan doa-doa sebelumnya)
2.Pembacaan surat oleh diaken (dibagian selatan)
3.Nyanyian Mazmur
4.Halleluyah
5.Pembacaan Injil dengan Pujian (disebelah utara)
Kredo (Pengakuan Iman)
Ekaristi
1.Persembahan dibawa; persiapan meja
2.Doa syukur akbar dengan prefasi, sanktus, dan benediktus
3.Anamnese, Doa Bapa Kami, Salam dan Ciuman Damai
4.Pemecahan roti diringi lagu Agnes Dey
5.Komuni
6.Ite, missa est! (suruhan untuk pergi/pulang dengan damai sejahtera)
Liturgi Gereja Katolik (Katolik atau biasa disebut dikalangan mereka “Gereja Katolik”).
Liturgi Gereja Barat yang dibahas di atas selanjutnya dipakai oleh Gereja Katolik yang berpusat di Roma dengan berbagai tambahan-tambahan yang kita kenal sekarang dalam Liturgi Gereja Roma Katolik atau biasa disebut dikalangan mereka “Gereja Katolik”.
Liturgi Gereja Zaman Reformasi (1517 – Kini)
Setelah Reformasi Gereja Barat yang berpusat di Roma mengalami perpecahan. Gereja yang tetap setia kepada Paus di Roma disebut Gereja Katolik Roma atau Gereja Katolik. Sedangkan orang Kristen yang tertarik dengan Reformasi Marthen Luther, selanjutnya organisasi Gerejanya disebut Gereja Protestan. Setelah Marthen Luther muncul Reformator lain seperti John Calvin dan Ulrich Zwingli. Masing-masing mereka menyusun liturgy yang selanjutnya dipakai oleh Gereja-gereja yang menerima asas-asas dari para Reformator tersebut.


1.Liturgi Gereja Katolik (yang terkini belum diperoleh)
2.Liturgi Gereja Reformasi/Protestan
Liturgi Marthen Luther (lihat lampiran)


Unsur-unsurnya:
1. Nyanyian suatu Mazmur atau nyanyian rohani
2. Kyrie Eleison dan Gloria
3. Doa mingguan (doa kolekta)
4. Pembacaan Surat
5. Nyanyian Mazmur
6. Pembacaan Injil
7. Kredo (dinyanyikan)
8. Homilia/Khotbah
9. Doa Bapa Kami (dinyanyikan)
10. Nasihat
11. Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus
12. Pembagian roti (sementara menyanyikan sanktus atau nyanyian lain)
13. Pembagian cawan (sementara menyanyikan Agnus Dei)
14. Pengucapan syukur
Liturgi Pra Liturgi John Calvin (lihat lampiarn)
Sebelum John Calvin menyusun Liturgi, ia menemukan dua liturgy yang menginspirasi lahirnya Liturgi John Calvin yang selanjutnya diikuti oleh pengikut Cavin yang sering disabut
Gereja Calvinis. Dua liturgy tersebut kami paparkan sebagai berikut:


1.Liturgi Strasburg (disusun Marthin Bucer)


Unsur-unsurnya:


1. Kata Permulaan
2. Pengakuan dosa dan Pemberitaan Anugerah
3. Pemberitahuan Pengampunan dosa (absolusi)
4. Nyanyian Mazmur atau Nyanyian rohani
5. Lyrie atau Gloria
6. Salam dan doa agar diterangi Roh Kudus
7. Mazmur atau Nyanyian dasa Firman
8. Pembacaan Surat atau Kitab lain (dengan keterangan pendek/singkat)
9. Injil Minggu/Lectio Continua dengan Khotbah
10. Kredo: Apostolikum (pengakuan iman Rasuli) dengan dinyanyikan atau nyanyian lain
11. Salam
12. Pembacaan formulir untuk merayakan Perjamuan Kudus
13. Doa Syafaat
14. Kata-kata peringatan akan penderitaan Tuhan Yesus Kristus
15. Doa agar diterima
16. Doa Bapa kami
17. Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus
18. Pembagian roti dan anggur (sementara menyanyikan Kyrie Eleison atau suatu Mazmur)
19. Pengucapan Syukur
20. Berkat (menurut Bil. 6)
21. Suruhan untuk pulang dengan damai sejahtera.
2.Liturgi Jenewa-Swiss (lihat lampiran)


Unsur-unsurnya:
1. Pertolongan kita (Maz. 124:8)
2. Pengakuan dosa
3. Pemberitahuan pengampunan dosa
4. Doa memohon pengampunan dosa
5. Dasa Firman
6. Nyanyian Mazmur
7. Doa (menurut rangka doa Bapa kami)
8. Pembacaan Firman (sesuai system ‘lectio continua’)
9. Khotbah/Homilia
10. Pengumpulan persembahan
11. Doa Syafaat
12. Kredo (Pengakuan Iman Rasuli, dinyanyikan)
13. Formulir Perjamuan Kudus (dengan kata-kata peringatan)
14. Doa agar diterima disertai doa Bapa Kami
15. Kata-kata penetapan-disusul dengan nasehat panjang
16. Kata-kata pembagian roti dan anggur
17. Komuni sementara menyanyikan Mazmur
18. Pengucapan syukur dan nyanyian pujian dari Zimeon
19. Berkat (Bil. 6)
20. Utusan untuk pergi dalam damai
21. Liturgi John Calvin (lihat lampiran)
Berdasarkan temuan dua liturgy itu maka Calvin menyusun Liturgi ibadah dengan unsure-unsur sebagai berikut:
1. Votum
2. Pengakuan dosa
3. Pemberitahuan Anugerah
4. Puji-pujian (pembacaan Dasa Titah)
6. Epiklese (doa untuk pembacaan firman TUHAN)
7. Pemberitaan Firman TUHAN
8. Kredo : Pengakuan Iman Rasuli
9. Doa Syafaat
10. Pengumpulan Persembahan
11. Berkat (Bil.6 atau rumus berkat lainnya)
Unsur-unsur Liturgi yang dipakai di Indonesia (lihat lampiran)
1. Votum
2. Salam
3. Introitus/Nats Pembimbing
4. Pengakuan dosa
5. Pemberitaan Anugerah
6. Hukum
7. Gloria Kecil (nyanyian: Hormat bagi Allah Bapa …)
8. Kyrie Eleison
9. Nyanyian pujian
10. Doa
11. Pembacaan Alkitab
12. Homilia/Khotbah
13. Mazmur dan Haleluyah
14. Pengakuan Iman
15. Doa Syafaat
16. Pemberian Jemaat
17. Nyanyian dan Paduan suara/grup vokal, solo,duet, trio
18. Berkat


Penjelasan untuk setiap unsure dari liturgi di atas.

Votum adalah suatu keterangan khidmat atau janji yang khidmat. Votum disamakan dengan kata-kata pembukaan ketua rapat ketika memulai suatu rapat. Kata pembukaan ketua ini berfungsi menertibkan pertemuan yang tidak teratur menjadi pertemuan yang teratur. Demikian pula votum, melalui ucapan votum pertemuan jemaat menjadi sebuah pertemuan yang teratur. Jadi secara fungsional votum dan kata pembukaan ketua rapat sama tetapi secara derajat votum dan kata pembukaan dari ketua rapat itu berbeda. Jika kata pembukaan ketua rapat itu berhubungan dengan aspek horizontal dari peserta rapat maka votum lebih dari itu, yaitu menyentuh aspek vertical (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan dengan jemaat yang hadir). Misalnya ketua rapat memulai rapat dengan mengatakan kata khidmat “saya membuka rapa” atau saudara-saudara kita akan segera memulai rapat kita. Sedangkan Votum “Pertolongan kita ialah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi” (rumus votum ini menyangkut dengan Tuhan dan umat-Nya yang berkumpul). Dalam votum terletak amanat, kuasa (eksousia) Tuhan Yesus. Segala sesuatu yang menyusul setelah votum semuanya berlangsung dalam nama Tuhan (Lihat rumus votum, Maz.124:8) Jadi maksud votum adalah mengkonstatir hadirnya Tuhan di tengah-tengah umat-Nya. Maka Gereja mengucapkan votum pada permulaan kebaktian atau votum menjadi unsure pertama dalam ibadah Protestan. Votum hendak menegaskan bahwa berlangsungnya ibadah dari awal sampai akhir ibadah hanya dapat terjadi dalam pimpinan Tuhan. Pendeta dapat memimpin ibadah dan Jemaat dapat berdoa, memuji Tuhan dst dalam ibadah Gereja itu hanya berlangusng karena Tuhan dan bukan kehebatan pendeta atau jemaat (Abineno,2000:2-3)
Salam adalah tanda persekutuan antara yang memimpin ibadah dengan jemaat. Dalam ibadah pelayan memberi salam kepada Jemaat dari mimbar dan jemaat memberi salam kepada pelayan yang sedang di mimbar. Salam adalah tanda persekutuan. Dengan salam ini mau ditegaskan bahwa pemimpin ibadah tidak sendirian dalam ibadah tetapi ia bersama-sama dengan jemaat. Oleh karena itu pengucapan salam juga menunjukkan tanda ikatan emosional antara pemimpin ibadah dan anggota jemaat. Rumus salam seperti dalam: Rom. 1:7; 2 Tim.1:2; 2 Kor.13:13 (Abineno, 2000:8)
Introitus terdiri dari nyanyian masuk dengan atau tanpa nas pendahuluan yang dinyanyikan oleh jemaat dan bukan oleh Paduan suara atau vokal group. Ada Gereja yang menggantikan introitus dengan nats pembimbing. Baik introitus maupun nats pembimbing selalu dihubungkan dengan tahun Gerejawi atau nats khotbah.(Abinen0, 2000:14-15)
Pengakuan dosa. Dalam Missale Romanum diinformasikan bahwa sejak abad ke 10 terdapat kebiasaan imam ketika sampai dekat mesbah, imam tunduk menyembah dan mengaku dosanya kepada Tuhan. Ketika unsure Pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah diteruskan dalam ibadah Protestan maka dua unsure ini dirubah yaitu pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dosa dijadikan sebagai akta jemaat. Dengan kata lain Gereja Reformasi meneruskan pemakaian pengakuan dosa (Confiteor) dan permohonan pengampunan (absolusi) dalam ibadah yang dilakukan oleh jemaat kepada Tuhan dan bukan hanya oleh imam atau pendeta. Jadi dalam ibadah Protestan, pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dirubah dan dijadikan menjadi akta jemaat. (Abineno, 2000:170
Hukum yang dimaksud disini adalah pembacaan 10 hukum Taurat dalam ibadah Gereja
Gloria Kecil, Kyrie Eleison dan Nyanyian Pujian. Gloria kecil adalah sebuah nyanyian: Hormat bagi Bapa serta Anak dan RohKudus, seperti pada permulaan, sekarang ini dan selama-lamanya. Amin. Kyrie Eleison (Tuhan Kasihanilah) adalah suatu doa yang terkenal di bangsa-bangsa kafir di Mesir, Asia Kecil, Konstantinopel, Yunani, Roma dll) yang kemudian diambil alih oleh jemaat dalam liturgy mereka. Unsur ini semakin lama semakin hilang dalam liturgy ibadah Gereja Calvinis. Nyanyian Pujian adalah penyembahan atau penghormatan kepada Allah atau suatu worship dimana jemaat sekarang mendapat bagian di dalam kidung pujian, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Wahyu. (Abineno, 2000:34-36,40).
Doa Pembacaan Alkitab dan Khitbah. Dalam ibadah Protestan, pembacaan Alkitab dan Renungan mendapat tempat yang sentral atau mendapat porsi waktu yang cukup lama dari unsure-unsur lainnya karena ibadah Protestan sentralnya adalah Firman Tuhan (Sola Skriptura). Dalam Bacaam Alkitab itulah tercermin bagaimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Tetapi karena sabda Tuhan itu ditulis dalam budaya (Ibrani dan Yunani) maka perlu diberi penjelasan atau homilia sehingga jemaat mengerti Tuhan yang berbicara kepada-Nya. Atau Tuhan yang dijumpai di Ibadah Gereja. Supaya isi Alkitab yang dibacakan dapat dimengerti maka perlu berdoa mohon pencerahan Roh Kudus.
Pengakuan Iman. Ada Gereja yang memakai pengakuan iman sebagai unsure liturgy tetapi ada pula Gereja yang tidak memakainya dalam liturgy ibadah. Sejak semula pengakuan iman erat hubungan dengan orang yang dibaptis. Pada acara baptisan, sang calon baptisan menjawab soal-soal yang berhubungan dengan pengakuan imannya. Misalnya: Uskup, percayakan engkau kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa- orang yang dibaptis menjawab: aku percaya (sesudah itu ia diselamkan) dst. Pada abad ke-5 pengakuan iman mulai dipakai dalam ibadah Jemaat di sebelah Timur (Antiokhia dan Konstantinopel). Kemudian dipakai di Gereja Barat di misa Romawi pada tahun 1014. Di Gereja Barat, pengakuan iman ditempatkan setelah khotbah dan permulaan ibadah Perjamuan Kudus. Seterusnya dalam Gereja Roma sekarang pemakaian Pengakuan Iman setelah Khotbah. Gereja Reformasi juga memakai pengakuan iman dalam tata ibadah jemaat dengan urutan yang tidak sama, ada Gereja yang sebelum khotbah tetapi ada pula yang melakukannya setelah khotbah. Hal ini bergantung dari tujuan pengakuan iman tersebut. Pengakuan iman yang biasa dipakai adalah: Pengakuan Iman Rasuli (PIR), Pengakuan Iman Nicea ( PIN), Pengakuan Iman Athanasius.
Doa Syafaat. Tempatnya dalam ibadah Jemaat biasanya sesudah khotbah. Isi doa syafaat adalah untuk orang lain: Gereka, Pemerintah dll. Sikap doa syafaat: ada yang menyatakan sebaiknya doa syafaat dilakukan dengan sikap berlutut, yaitu sikap penyembahan jiwa manusia dihadapan kebesaran Allah (Kuyper). Ada yang menyatakan doa syafaat dilakukan dengan sikap berlutut bagi anggota jemaat ditempatnya masing-masing, sedangkan pelayan di depan meja atau mimbar (Van der Leeuw). Yang lain menyatakan doa syafaat dilakukan dengan sikap berdiri (Golterman) namun akan sangat melelahkan jika doanya panjang. Ada pula yang mengusulkan sikap duduk lebih baik karena menyatakan keakraban, kerendahan hati dan konsentrasi (Abineno, 2000:86-91)
Pemberian Jemaat adalah syukur jemaat kepada Tuhan atas berkat yang Tuhan berikan kepada Jemaat. Jadi persembahan adalah pernyataan syukur kepada tuhan. Tempatnya setelah Khotbah. Karena persembahan adalah respon umat terhadap Tuhan yang telah memberkatinya.
Berkat. Biasanya melalui penumpangan tangan. Penumpangan tangan disini hanya bersifat symbol yaitu berkat. Tuhan sendirilah yang memberkati anggota jemaat. Sedangkan penumpangan tangan adalah symbol tentang berkat dimaksud. Rumus berkat: Bil. 6:22-27; II Kor. 13:13; Bil.6:24-26 dan ayat-ayat lainnya dalam Alkitab.
Berbagai unsure liturgi yang diuraikan di atas, ada yang memeakai secara keseluruhan tetapi ada pula yang tidak seluruhnya, hanya unsure-unsur tertentu yang dipakai dalam ibadah jemaat pada setiap hari Minggu. Misalnya ada Gereja yang tidak memakai kata Votum tetapi menggunakan kata-kata pembukaan dalam memulai suatu ibadah. Sebenarnya kata-kata pembukaan, entah oleh WL atau MC dalam suatu ibadah dan rumus votum yang diucapkan oleh pelayan dalam ibadah Gereja sama esensinya. Tetapi secara Teologis makna rumus votum (Pertolongan kita ialah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi) lebih dalam makna teologisnya dari pada kata-kata pembukaan oleh MC dll, kecuali MC membuat kata-kata pembukaan yang maknanya sama dengan rumus votum tersebut di atas.
Unsure-unsur liturgy yang dijelaskan di atas tidak seluruh Gereja memakainya. Ada Gereja-gereja yang mungkin memakai unsure baru dalam liturgy ibadah. Gereja-gereja yang belum kami singgung liturgy ibadahnya, yaitu:

Liturgi Gereja Anglikan (belum dapat)
Liturgi Gereja Metodis (belum dapat)
Liturgi Gereja Anabaptis (belum dapat)
1. Liturgi Gereja Baptis (belum dapat)
2. Liturgi Gereja Pentakosta (belum dapat)
3. Liturgi Gereja Bethel Indonesia (amatan melalui ibadah mahasiswa)


Adalah tidak seimbang jika dalam pembahasan liturgy (dalam arti tata ibadah) tidak menyinggung tentang unsure-unsur liturgy yang dipakai dalam Ibadah Gereja Bethel Indonesia. Hal ini disebabkan karena kami menyajikan materi kuliah ini di Sekolah Teologi yang dinaungi Gereja Bethel maka kami harus membicarakan tentang liturgy Gereja Bethel. Mungkin istilah liturgy tidak umum dipakai, yang dipakai adalah tata ibadah.
Penulis menyadari tata unsure-unsur tata ibadah yang disinggung dalam bahasan ini tidak kami temukan dalam dokumen Gereja Bethel tetapi kami simpulkan secara fenomena beribadah, yaitu pada saat mahasiswa STTB The Way kelas Ekstensi mengadakan desain dan eksperimen liturgy ibadah di kelas pada tanggal, 30 Agustus 2006 Pukul, 17.45-21.00. Dari ibadah inilah kami dapat menyimpulkan unsure-unsur yang dipakai dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia (mungkin tidak semua jemaat local Gereja Bethel Indonesia memakai unsure-unsur yang sama dari yang kami sebutkan, karena unsure-unsur ini bergantung dari WL dengan system mengalir/pimpinan Roh).
Dengan demikian kami segera merumuskan unsure-unsur yang ada dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia (Tata Ibadah/Liturgi Gereja Bethel):
Usnsur-unsur liturgy Gereja Bethel Indonesia sbb:
Kata Pembukaan/kata pengantar beribadah : oleh Worship Leader/WL
Doa Pembukaan : Oleh WL
Pengakuan dosa
Doa memberkati jemaat
Doa untuk Pengkhotbah dll sambil diringi musik (piano)
Pujian Penyembahan : Oleh WL
Dinyanyikan dalam posisi duduk
Dinyanyikan dalam posisi berdiri sambil bertepuk tangan
Dilanjutkan dengan berbahasa Roh
Bertepuk tangan dan bermazmur
Bersalaman satu dengan lainnya
Menyanyi dengan bersukaria sambil melompat-lompat
Menyanyikan sebuah pujian yang diulangi beberapa kali untuk menyambut pembacaan Alkitab dan penguraiannya/homilia (jemaat duduk)
Menyanyi bersama : (Jemaat berdiri)
Menyanyi nyanyian Baru : Oleh WL, anggota Jemaat dan pendeta
Doa Pembacaan Alkitab : Oleh Pengkhotbah
Bacaan Alkitab : Oleh Pengkhotbah
Renungan : Pengkhotbah
Doa ucapan syukur atas Firman Tuhan : Oleh Pengkhotbah
Pengumuman : Oleh Petugas
Doa Persembahan : Oleh WL
Persembahan Jemaat : Oleh Petugas
Doa Syafaat : Jemaat berdiri, doa dipimpin oleh petugas
Doa Berkat : Oleh Pendeta/Pengkhotbah
Berdasarkan liturgi ibadah ini tercermin peranan jemaat dalam ibadah, tidak ada monopoli oleh pendeta, anggota jemaat berpartisipasi dalam ibadah melalui puji-pujian, bahasa Roh, nyanyian baru dan unsure-unsur lainnya yang menjadi indicator pertemuan anggota jemaat dengan Tuhan dalam sebuah ibadah. Selanjutnya perjumpaan Tuhan dengan anggota jemaat dalam ibadah ini nampak dalam bacaan Alkitab dan renungan Firman Tuhan, renungan Firman Tuhan diusahan oleh pengkhotbah dengan bersandar pada kekuatan Roh sehingga menjadi actual dan fungsional bagi pendengar.
Dalam ibadah ini pun WL banyak memainkan peran berdasarkan konsep mengalir (Flowing Consept). Konsep mengalir yang dimaksudkan disini sebagaimana yang kami ketahui dari mahasiswa dan juga dalam Workshop Handbook Fresh Worship Conference Jakarta 2006, khususnya yang disajikan oleh Pdt. Ir. Welyar Kauntu. Ia menyatakan bahwa tujuan dari konsep mengalir adalah (1) mengerti alur ibadah yang tepat (2) mengerti bagaimana menyanyikan sebuah lagu dengan tepat (3) mengerti bagaimana menyatu dengan musik dan singers (4) mengerti bagaimana menyambung aliran dari lagu ke lagu. Selanjutnya Kauntu menyatakan bahwa unsure penentu mengalir terdiri dari focus; interpretasi; dan harmoni. Unsur focus dari konsep mengalir, yaitu menjaga supaya semua mata tertuju kepada Tuhan Yesus melalui ekspresi yang benar; lagu-lagu yang dipilih hendaknya memfokuskan orang pada Tuhan Yesus; konsep mengalir berfokus pada usaha memotivasi dan bukan menggurui, mengaja dan bukan memerintah; membuat keputusan tepat sesuai tuntunan Roh Kudus. Unsur Interpretasi menyangkut penghafalan lirik lagu dan memahami makna setiap baris dan kalimat lagu tersebut; menangkap dengan tepat “hook” lagu dan dinamikanya; mengetahui waktu yang tepat untuk “add-lip” dan komentar pendek. Unsur Harmoni dari konsep mengalir yaitu adanya kesatuan Roh dan kesatuan motivasi; menyatu dengan interpretasi musik, khususnya rhythm dan tempo lagu; mengenal intro, interlude dan coda lagu dengan baik; komposisi arasemen vokal yang baik bersma para singers.(Workshop Handbook Fresh Worship Conference Jakarta, 2006:8-9)
Berdasarkan unsure-unsur ibadah yang muncul dalam praktik ibadah di kelas oleh mahasiswa STTB The Way Kelas Ekstensi yang mayoritas berasal dari Gereja Bethel Indonesia maka dapat kita katakana bahwa ada unsure lama (unsure liturgy/tata ibadah Gereja masa lampau ) dan ada unsure baru (kesesuaian dengan pimpinan Roh Tuhan dan perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman ) dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia.
Pada akhirnya kami katakana bahwa apapun tata ibadah yang kita buat harus mencerminkan pertemuan Tuhan dengan umat-Nya dan umat-Nya dengan Tuhan. Pertemuan umat atau anggota Gereja dengan Tuhan dalam sebuah ibadah minggu dan ibadah lainnya dapat dilihat dari keikutsertaan anggota jemaat dalam ibadah seperti: Berdoa, Berbahasa Roh, Memuji Tuhan, Menyembah Tuhan, Mengaku dosa sebelu, bertemu Tuhan, memberi sykur kepada Tuhan melalui persembahan, menyanyikan nyanyian baru dll. Sedangkan pertemuan Tuhan dengan umat-Nya atau anggota Gereja itu terjadi melalui membaca Alkitab. Artinya ketika Alkitab dibacakan maka sebenarnya Jemaat sedang mendengar Tuhan berbicara kepada Jemaat. Bacaan Alkitab juga perlu dijelaskan karena Firman Tuhan itu disampaikan dalam konteks budaya lain seperti budaya Ibrani dan Yunani oleh karena itu maka setelah Alkitab dibacakan segera diikuti dengan renungan sehingga jemaat mengerti Tuhan yang berbicara kepanya, entah dalam bentuk nasehat, teguran atas dosa dll. Selain itu dapat juga melalui doa berkat, yaitu melalu doa berkat Tuhan sendiri memberi berkat kepada jemaat. Penumpangan tangan pendeta atau hamba Tuhan hanya tindakan simbolis saja.
Oleh karena konsep seperti itu maka ibadah mesti disiapkan secara baik. Tata ibadah harus disiapkan secara baik, WL juga mempersiapkan diri dengan baik dan memang demikian karena informasi yang kami peroleh tidak semua orang menjadi WL, ada pelatihan khusus WL di Bandung.
Jadi jelas bahwa ibadah, entah oleh gereja manapun, Katolik, Protestan dan Gerakan Kharismatik harus mencerminkan perjumpaan antara Tuhan dan Jemaat-Nya dan jemaat-Nya dengan Tuhan. Pertemuan ini harus terakomodasi dalam sebuah tata ibadah yang dirancang entahkah dengan system tata ibadah yang baku dan dengan “system mengalir”. Untuk mencapai maksud ini maka perlu renungan mendalam tentang apa itu ibadah Gereja?dan bagaimana liturginya atau tata ibadah yang mencerminkan definisi kita tentang ibadah.


[1] Bahan ini seluruhnya milik saya, saya sudah posting beberapa tahun di wordpress dengan alamat: http://yonasmuanley.wordpress.com




Previous Post
Next Post

About Author

0 comments: