Saturday, November 24, 2018

Pengertian Liturgi Ibadah Gereja

Pengertian Liturgi Ibadah Gereja

LITURGI IBADAH GEREJA (penyimpulkan arti)

Definisi liturgi ibadah ini disesuaikan dengan definisi tentang Ibdah (lihat penjelasan pengertian ibadah Kristen). Berikut ini saya merumuskan definisi Liturgi Ibadah.
Definisi Konseptual:
Liturgi Ibadah adalah seperangkat system atau aturan yang sistematis, harmonis,logis, dinamis, fungsional dalam sebuah perjumpaan/pertemuan yang “luar biasa” antara Tuhan dan Jemaat dan Jemaat dengan Tuhan di ruang ibadah.
Definisi Operasional:
Liturgi adalah aturan yang mengatur berlangsungnya pertemuan yang luar biasa, yaitu Tuhan bertemu dengan umat dan umat bertemu dengan Tuhan dengan dimensi Tuhan berbicara kepada umat yang ditandai dengan adanya bacaan Alkitab, renungan firman Tuhan dan umat-Nya meresponi pertemuan dengan Tuhan dengan dimensi turut serta/mengambil bagian dalam ibadah atau bertemu Tuhan dengan indicator: jemaat ikut serta dalam nyanyian/pujian kepada Tuhan, ada paduan suara, vokal group, trio, kuartet, adanya anggota jemaat mengambil bagian dalam doa, pengakuan iman, menjalankan persembahan, memberi persembahan, ada alokasi waktu untuk anggota jemaat memberi kesaksian secara narasi dan pujian, memberi persembahan dll. (Tuhan tidak dapat diatur kehadiranNya, tetapi yang kami maksudkan dengan aturan disini dalam pengertian ada saat Tuhan berbicara/diatur bacaan Alkitab dan renungannya, dan pemberian berkat (akhir kebaktian) dan ada saat manusia berbicara kepada Tuhan dalam suatu ibadah: melalui doa, pujian dll ini semuanya diatur tetapi bukan dalam arti pengaturan yang kaku)
Definisi ibadah berdasarkan fenomena ibadah:
Ibadah Kristen adalah penyataan diri Yahweh sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya atau suatu tindakan ganda yaitu tindakan Yahweh kepada manusia dalam Yesus Kristus dan dalam tindakan tanggapan manusia melalui Yesus Kristus. (Oleh Hoon, lihat James F. White,Pengantar Ibadah Kristen, 2002 :7)
Ibadah Kristen adalah Gottesdienst, satu kata yang mencakup baik pelayanan Allah kepada manusia maupun pelayanan manusia kepada Allah. Atau Ibadah sebagai pelayanan Allah kepada jemaat dan Ibadah sebagai pelayanan Jemaat di hadapan Allah. (Ibid, hlm. 7)
Ibadah adalah tanggapan dari ciptaan kepada yang abadi. (hlm. 9)
Ibadah bukanlah pertama-tama bukanlah inisiatif manusia melainkan tindakan pendamaian Allah dalam Kristus melalui Roh-Nya. (Nikos A. Nissiotis, teolog ortodox). Baginya Ibadah tidah lain memahami kehadiran dan tindakan Allah trinitas dalam ibadah.
Banyak perdebatan tentang ibadah dalam tahun-tahun terakhir ini berkisar di sekitar pertanyaan, yang salah satunya: Haruskah ibadah itu merupakan persembahan bakat-bakat dan rasa seni kita yang terbaik kepada Allah meskipun dalam bentuk-bentuk yang tidak cocok atau tidak dapat dimengerti oleh orang banyak?
Ibadah Jemaat adalah suatu pertemuan, pertemuan antara Allah dan jemaat dan Jemaat dengan Allah. Pertemuan inilah yang disebut pertemuan teragung (lihat judul Blog)
Oleh karena itu ibadah harus berlangsung dengan sopan dan teratur. Ibadah harus dipersiapkan dengan baik, karena ibadah jemaat adalah pertemuan luar biasa yaitu jemaat datang ke kebaktian untuk bertemu Tuhan secara bersama-sama/persekutuan dan sebaliknya Tuhan bertemu dengan jemaat. Jadi liturgy dan ibadah harus mencerminkan pertemuan “luar biasa itu”.
Persiapan ibadah disini menyangkut semua unsure: Pembacaan Alkitab, Khotbah, Doa, Nyanyian. Persiapan yang kurang memadai akan menyebabkan suasana ibadah menjadi tidak tertib, membuat jemaat marah, jengkel dll.

Apa yang terjadi/dilakukan dalam Ibadah Kristen
Dari TUHAN:
TUHAN berbicara melalui Firman-Nya
Firman-Nya dijelaskan dalam budaya sekarang: Khotbah
TUHAN memberi berkat melalui penunpangan tangan Pendeta Simbol berkat)
Dari umat-Nya:
Memberi salam kepada sesama anggota jemaat
Mengaku dosa
Menyany lagu-lagu rohani/memuji Tuhan
Menyembah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran
Paduan Suara (PS)
Grup Voka/Vokal Grop
Trio
Duet
Kuartet
Mengaku Iman Percaya (Tempatnya: sebelum khotbah/awal ibadah; sesudah khotbah; sebulum menerima berkat
(Akhir ibadah)
Memberi ucapan syukur
Berbahasa Roh
Menyanyikan nyanyian baru
Bermazmur
Mendengarkan Tuhan berbicara
Berdoa
Membaca Alkitab
dst
Kesimpulan:
Berdasarkan uraian pengertian liturgy dan ibadah maka dapat disimpulkan bahwa yang kita maksudkan dengan liturgy ibadah adalah system/perangkat teologis yang mengatur secara harmonis, serasi antara jemaat yang berkumpul dalam mewujudkan tanggapan timbal balik antara Allah kepada jemaat dan antara jemaat kepada Allah. Dengan kata lain liturgy dalam konteks ibadah diartikan sebagai suatu system teologis yang mengatur berlangsungnya tanggapan umat-Nya secara bersama-sama terhadap penyataan/kehadiran Allah dalam Yesus Kristus pada saat jemaat berkumpul dan beribadah.







Apapun pandangan teollogi, masing-masing tentu memiliki alasan teologis yang patut dihargai.

Salam

Anggur Perjamuan Kudus

Anggur Perjamuan Kudus

Perjamuan Kudus yang dirayakan oleh Gereja menggunakan anggur dan roti. Anggur melambangkan darah Yesus Kristus, sedangkan roti melambangkan tubuh Yesus Kristus. Kita dapat memesan anggur dan roti khusus untuk perjamuan kudus di toko-toko buku Kristen seperti BPK dan Kalam Hidup.
Bila kita merayakan Perjamuan Kudus, roti dan anggur selalu dimaknai dalam pandangan teologi yang dianut. Ada teologi seperti Teologi John Calvin, roti dan anggur hanya "lambang" dan bukan tubuh dan darah sesungguhnya. Jadi menurut teologi ini, roti dan anggur hanyalah lambang bagi kita untuk ingat Yesus yang telah mengorbankan tubuh dan menumpahkan darah-Nya untuk keselamatan umat-Nya. Dalam paham teologi Calvinisme, jemaat yang mengambil roti dan anggur pada saat perjamuan kudus, selalu diingatkan oleh pendeta bahwa roti dan anggur adalah lambang tubuh dan darah Yesus Kristus. Kristus hadir dalam Roh menyertainya umat-Nya yang sedang beribadah.
Ada pula yang menyatakan bahwa roti dan aanggur berubah menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Pandangan teologi ini didasarkan pada keyakinan bahwa TUHAN berkuasa mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah-Nya. Mereka yang menganut corak pemahaman teologi ini yaitu beberapa gereja arus utama dan beberapa gereja kharismatik.

Apapun pandangan teollogi, masing-masing tentu memiliki alasan teologis yang patut dihargai.

Salam

Thursday, September 20, 2018

Sejarah Liturgi: Dari Yerusalem ke Eropa dan Indonesia

Sejarah Liturgi: Dari Yerusalem ke Eropa dan Indonesia

Sejarah Perkembangan Leiturgi (Tata Ibadah).[1]


Merujuk pada definisi liturgy dalam ilmu Teologi maka bahasan tentang sejarah perkembangan leiturgi hanya terfokus kepada liturgy dalam pengertian tata ibadah. Tata ibadah yang dimaksud adalah tata ibadah yang pernah dipakai oleh Gereja, baik Gereja mula-mula (30-590); Gereja abad Pertengahan (590-1492) yang dibagi lagi menjadi Gereja Katolik Barat dan Katolik Timur (Gereja Ortodoks) sejak tahun 1054 (lihat skisma Gereja dalam Sejarah Gereja); Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan (Perpecahan Gereja Barat menjadi: 1) Gereja Katolik dengan Paus di Roma dan 2)Gereja Protestan aliran Lutheran dan Gereja Protestan corak Calvin/Calvinisme. Kelompok Kristen yang disebut di sini masing-masing mempunyai sejarah Liturgi atau tata ibadahnya yang dapat kita ikuti dalam beberapa literature Kristen. Sedangkan sejarah Leiturgi dari Gereja-gereja lain seperti Baptis, Methodis, tidak kami cantumkan karena kami belum mendapatkan data tentang tata ibadah atau unsure-unsur yang dipakai dalam Gereja Baptis dan Methodis. Sedangkan liturgi Gereja Bethel Indonesia kami cantumkan berdasarkan amatan secara langsung (partisipasi langsung) dalam desain liturgi/tata ibadah dan praktek liturgy oleh mahasiswa program Ekstensi di ruang kelas kampus baru STTB The Way pada tanggal, 30 Agustus 2006 pukul 17.45-21.00. Dengan kata lain, pemaparan tentang sejarah liturgi/tata ibadah Gereja mula-mula, Gereja Abad Pertengahan, Gereja Katolik Roma dan Gereja Reformasi dapat kami sajikan berdasarkan kajian literature, sedangkan tata ibadah Gereja Bethel Indonesia kami ambil berdasarkan pengalaman praktik ibadah yang dilakukan mahasiswa seperti yang kami maksudkan di atas. Kami berusaha mencari informasi melalui literature di Perpustakaan, khususnya dalam buku pengajaran dasar Gereja Bethel Indonesia, namun kami tidak temukan. Mungkin informasi untuk tata ibadah ada dalam buku lain yang dikeluarkan Sinode GBI namun belum kami baca. Mudah-mudahan ke depan sudah kami temukan. Mungkin juga tidak tertulis (secara baku) karena dalam ibadah GBI ada yang memimpin berlangsungnya ibadah tersebut dengan konsepnya “mengalir” (berdasarkan tuntunan Roh). Artinya urutan dari setiap unsure-unsur (seperti: kata pembukaan ibadah, mengajak jemaat masuk dalam doa dst)dalam ibadah dari awal sampai akhir ibadah itu bergantung dari “WL” atas tuntunan Roh.
Jadi dari apa yang dikatakan di atas maka kita dapat memahami bahwa Gereja terus menerus bergumul dengan sebuat tata ibadah yang relevan dengan zamannya. Setiap Gereja, khususnya GBI mempunyai sejarah pergumululan liturgy yang cukup panjang. Sejarah tata ibadah Gereja-gereja ini mungkin harus dilihat dalam tata ibadah yang pernah dibuat oleh kelompok Ana Baptis yang kemudian berkembang ke tempat-tempat lain dengan sedikit atau banyak mengalami perubahan.

Baca Artikel: Perjuangan di Google Adsense

Secara pribadi saya mohon maaf karena saya ada dalam salah satu kebun atau taman akademis Gereja Bethel Indonesia yang saya cintai (walaupun saya dari organisasi Gereja lain yaitu Gereja Kristen Setia Indonesia) karena tidak banyak pembicaraan tentang sejarah liturgy atau tata ibadah yang berhubungan dengan Gereja Bethel. Kita berharap pada kesempatan akademis berikutnya sudah ditemukan Sejarah Liturgi Gereja-Gereja Ana Baptis.
Berikut ini kami paparkan sejarah Liturgi Gereja yang kami mulai dengan Liturgi Sinagoge yang unsurnya sedikit banyak diikuti oleh Liturgi Gereja Mula-mula (Liturgi Sinaxis). Sejarah Liturgi yang dimaksud dapat diuraikan berikut ini:

Liturgi Sinagoge (lih. Lampiran)
Unsur-unsur liturgi Sinagoge:

1. Syema
2. Doa
3. Pembacaan dari Tora dan pembacaan Kitab-kitab Para Nabi
4. Pengucapan Berkat: Oleh Imam


Keterangan beberapa unsure liturgy Sinagoge lihat lampiran


Menurut Riemer:
1. Doa-doa Pembukaan (doa delapan belas)
2. Pembacaan Gulungan Kitab Taurat (lih. Kis.13:14,15)
3. Nyanyian Mazmur
4. Pembacaan Gulungan Kitab Nabi-nabi
5. Pelayan Firman (Midrasy = Homilia)
6. Pengakuan Iman (Syema: Ul. 6:4)
7. Pujian/Sanktus (Yes. 6:3)
8. Berkat (Bil. 6:24-26). Selanjutnya lihat lampiran Liturgi Sinagoge
Liturgi Gereja Mula-mula (30 – 590)
Gereja mula-mula mengambil beberapa unsure dari liturgy Sinagoge dalam liturgy mereka yang disebut dengan liturgy Sinaxis.
Liturgi Sinaxis (Liturgi Gereja Purba)
Unsur-unsur liturgy Sinaxis:
1. Pembacaan Kitab Suci
2. Menyanyikan Mazmur
3. Berdoa


Keterangan Sinaxis lihat lampiran (secara manual)
Liturgi Yustinus Martyr (100 – 165 )

Unsur-unsur liturgi Yustinus Martyr:
1. Pembacaan Injil-Injil
2. Pembacaan Surat-surat Rasuli
3. Pembacaan Kitab-kitab Nabi
4. Homilia/Penjelasan Kitab Suci yang dibaca oleh Uskup sambil duduk
5. Ajakan untuk hidup sesuai dengan isi Kitab Suci yang telah dijelaskan (ajakan penerapan)
6. Berdoa bersama-sama sambil berdiri
7. Pembagian roti dan anggur
8. Doa Bebas
9. Pengaminan
10. Ekaristi
11. Kolekte (pemberian untuk orang miskin)
Liturgi Gereja Abad ke III


Unsur-unsurnya:
1. Pembacaan Perjanjian Lama
2. Pembacaan Kitab-kitab Baru (PB)
3. Homilia/Khotbah
4. Doa Jemaat dengan Doa Syafaat
5. Ciuman Kudus
6. Roti dan Cawan dibawa kepada Uskup
7. Pengucapan syukur (Doa Ekaristi)
8. Diaken-diaken membagi roti dan anggur
9. Nyanyian ditengah setiap unsure
Liturgi Gereja Abad Pertengahan (590 –1500)


Penulis membaginya menjadi dua:
Liturgi Gereja Katolik Timur (ortodox Timur)
Liturgi Yohanes Chrisostomos (menjadi liturgy Gereja Ortodox Timur yang berpusat di Bisantium)
Unsur Liturgi Yohanes Chrisostomos: dimulai di belakang dinding ikon-ikon (lukisan, gambar, patung) terletak di antara meja dan ruang tempat jemaat berkumpul.
Meja disiapkan. Doa litany dengan doa syafaat demi Gereja dan negara, kesuburan tanah, orang-orang yang menderita. Disusul nyanyian tiga Mazmur oleh Paduan Suara.
Pengakuan Dosa
• Doa agar berhikmat dan diterangi Roh Kudus
• Pemasukan kecil (Kitab-kitab suci dibawa masuk, diusung dengan tangan di atas kepala) dan nyanyian Trihagion: kudus-kudus-kuduslah Tuhan
• Pembacaan Taurat (suara rendah)
• Pembacaan Kitab Nabi-nabi (suara rendah)
• Pembacaan surat-surat (suara mulai naik pada setiap kalimat)
• Pembacaan Injil (suara mulai tinggi dan pada akhir berbunyi secara menyanyi; Jemaat berdiri pada waktu pembacaan Injil.
• Homilia (berbicara.bercakap-cakap)
• Doa Syafaat: Kaum Kristen; pejabat Gereja; peserta katekisasi
Doa Persiapan Meja
Nyanyian Mazmur 90 dengan pemasukan besar: roti dan anggur dibawa masuk
Saling berdoa syafaat: semoga Tuhan menjaga kami semua dalam kerajaan-Nya dan semoga Roh-Nya yang Kudus datang atas kamu.
Ciuman Kudus
Pembukaan pintu dalam dinding ikon-ikon
Pembacaan Kredo (Pengakuan Iman Necea)
Salam (II Kor. 13:13)
Doa Syukur Akbar
Benediktus: pengucapan syukur; kata penetapan Perjamuan Kudus.
Buatlah ini, yang sebenarnya adalah roti, menjadi tubuh Kristus yang dipuji dan buatlah isi cawan ini menjadi darah Kristus-Mu yang dipuji …
Doa-doa syafaat yang baru yang diakhiri dengan doa Bapa Kami
Uskup: yang kudus untuk orang kudus!
Jemaat: Satu adalah kudus, satu adalah TUHAN, Yesus Kristus
Komuni (Persekutuan: Perjamuan Kudus/Misa, yaitu makan bersama-sama). Sementara Mazmur 34 dinyanyikan (imam dan diaken menerima komuni ke depan, semua orang lain). Semua orang berjalan ke depan untuk menerima komuni harus berkata: “mari, saya menghadap Kristus … demi pengampunan dan hidup kekal.
Doa penutup
Jemaat menyanyi:
Amin, terpujilah TUHAN
Dari sekarang sampai selamnya (3 x)


Liturgi Gereja Katolik Barat (Gereja yang berpusat di Roma)


Unsur-unsurnya:


Persiapan
1. Prosesi ke gereja (beriring ke ruang gereja)
2. Mazmur Introitus (Nyanyian masuk) dengan Gloria mini
3. Masuknya pemimpin kebatian
4. Kirie eleison (doa litany)
5. Gloria Akbar (diangkat pemimpin, dijawab jemaat)
Pelayanan Firman
1.Salam dan doa rangkuman (menyimpulkan doa-doa sebelumnya)
2.Pembacaan surat oleh diaken (dibagian selatan)
3.Nyanyian Mazmur
4.Halleluyah
5.Pembacaan Injil dengan Pujian (disebelah utara)
Kredo (Pengakuan Iman)
Ekaristi
1.Persembahan dibawa; persiapan meja
2.Doa syukur akbar dengan prefasi, sanktus, dan benediktus
3.Anamnese, Doa Bapa Kami, Salam dan Ciuman Damai
4.Pemecahan roti diringi lagu Agnes Dey
5.Komuni
6.Ite, missa est! (suruhan untuk pergi/pulang dengan damai sejahtera)
Liturgi Gereja Katolik (Katolik atau biasa disebut dikalangan mereka “Gereja Katolik”).
Liturgi Gereja Barat yang dibahas di atas selanjutnya dipakai oleh Gereja Katolik yang berpusat di Roma dengan berbagai tambahan-tambahan yang kita kenal sekarang dalam Liturgi Gereja Roma Katolik atau biasa disebut dikalangan mereka “Gereja Katolik”.
Liturgi Gereja Zaman Reformasi (1517 – Kini)
Setelah Reformasi Gereja Barat yang berpusat di Roma mengalami perpecahan. Gereja yang tetap setia kepada Paus di Roma disebut Gereja Katolik Roma atau Gereja Katolik. Sedangkan orang Kristen yang tertarik dengan Reformasi Marthen Luther, selanjutnya organisasi Gerejanya disebut Gereja Protestan. Setelah Marthen Luther muncul Reformator lain seperti John Calvin dan Ulrich Zwingli. Masing-masing mereka menyusun liturgy yang selanjutnya dipakai oleh Gereja-gereja yang menerima asas-asas dari para Reformator tersebut.


1.Liturgi Gereja Katolik (yang terkini belum diperoleh)
2.Liturgi Gereja Reformasi/Protestan
Liturgi Marthen Luther (lihat lampiran)


Unsur-unsurnya:
1. Nyanyian suatu Mazmur atau nyanyian rohani
2. Kyrie Eleison dan Gloria
3. Doa mingguan (doa kolekta)
4. Pembacaan Surat
5. Nyanyian Mazmur
6. Pembacaan Injil
7. Kredo (dinyanyikan)
8. Homilia/Khotbah
9. Doa Bapa Kami (dinyanyikan)
10. Nasihat
11. Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus
12. Pembagian roti (sementara menyanyikan sanktus atau nyanyian lain)
13. Pembagian cawan (sementara menyanyikan Agnus Dei)
14. Pengucapan syukur
Liturgi Pra Liturgi John Calvin (lihat lampiarn)
Sebelum John Calvin menyusun Liturgi, ia menemukan dua liturgy yang menginspirasi lahirnya Liturgi John Calvin yang selanjutnya diikuti oleh pengikut Cavin yang sering disabut
Gereja Calvinis. Dua liturgy tersebut kami paparkan sebagai berikut:


1.Liturgi Strasburg (disusun Marthin Bucer)


Unsur-unsurnya:


1. Kata Permulaan
2. Pengakuan dosa dan Pemberitaan Anugerah
3. Pemberitahuan Pengampunan dosa (absolusi)
4. Nyanyian Mazmur atau Nyanyian rohani
5. Lyrie atau Gloria
6. Salam dan doa agar diterangi Roh Kudus
7. Mazmur atau Nyanyian dasa Firman
8. Pembacaan Surat atau Kitab lain (dengan keterangan pendek/singkat)
9. Injil Minggu/Lectio Continua dengan Khotbah
10. Kredo: Apostolikum (pengakuan iman Rasuli) dengan dinyanyikan atau nyanyian lain
11. Salam
12. Pembacaan formulir untuk merayakan Perjamuan Kudus
13. Doa Syafaat
14. Kata-kata peringatan akan penderitaan Tuhan Yesus Kristus
15. Doa agar diterima
16. Doa Bapa kami
17. Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus
18. Pembagian roti dan anggur (sementara menyanyikan Kyrie Eleison atau suatu Mazmur)
19. Pengucapan Syukur
20. Berkat (menurut Bil. 6)
21. Suruhan untuk pulang dengan damai sejahtera.
2.Liturgi Jenewa-Swiss (lihat lampiran)


Unsur-unsurnya:
1. Pertolongan kita (Maz. 124:8)
2. Pengakuan dosa
3. Pemberitahuan pengampunan dosa
4. Doa memohon pengampunan dosa
5. Dasa Firman
6. Nyanyian Mazmur
7. Doa (menurut rangka doa Bapa kami)
8. Pembacaan Firman (sesuai system ‘lectio continua’)
9. Khotbah/Homilia
10. Pengumpulan persembahan
11. Doa Syafaat
12. Kredo (Pengakuan Iman Rasuli, dinyanyikan)
13. Formulir Perjamuan Kudus (dengan kata-kata peringatan)
14. Doa agar diterima disertai doa Bapa Kami
15. Kata-kata penetapan-disusul dengan nasehat panjang
16. Kata-kata pembagian roti dan anggur
17. Komuni sementara menyanyikan Mazmur
18. Pengucapan syukur dan nyanyian pujian dari Zimeon
19. Berkat (Bil. 6)
20. Utusan untuk pergi dalam damai
21. Liturgi John Calvin (lihat lampiran)
Berdasarkan temuan dua liturgy itu maka Calvin menyusun Liturgi ibadah dengan unsure-unsur sebagai berikut:
1. Votum
2. Pengakuan dosa
3. Pemberitahuan Anugerah
4. Puji-pujian (pembacaan Dasa Titah)
6. Epiklese (doa untuk pembacaan firman TUHAN)
7. Pemberitaan Firman TUHAN
8. Kredo : Pengakuan Iman Rasuli
9. Doa Syafaat
10. Pengumpulan Persembahan
11. Berkat (Bil.6 atau rumus berkat lainnya)
Unsur-unsur Liturgi yang dipakai di Indonesia (lihat lampiran)
1. Votum
2. Salam
3. Introitus/Nats Pembimbing
4. Pengakuan dosa
5. Pemberitaan Anugerah
6. Hukum
7. Gloria Kecil (nyanyian: Hormat bagi Allah Bapa …)
8. Kyrie Eleison
9. Nyanyian pujian
10. Doa
11. Pembacaan Alkitab
12. Homilia/Khotbah
13. Mazmur dan Haleluyah
14. Pengakuan Iman
15. Doa Syafaat
16. Pemberian Jemaat
17. Nyanyian dan Paduan suara/grup vokal, solo,duet, trio
18. Berkat


Penjelasan untuk setiap unsure dari liturgi di atas.

Votum adalah suatu keterangan khidmat atau janji yang khidmat. Votum disamakan dengan kata-kata pembukaan ketua rapat ketika memulai suatu rapat. Kata pembukaan ketua ini berfungsi menertibkan pertemuan yang tidak teratur menjadi pertemuan yang teratur. Demikian pula votum, melalui ucapan votum pertemuan jemaat menjadi sebuah pertemuan yang teratur. Jadi secara fungsional votum dan kata pembukaan ketua rapat sama tetapi secara derajat votum dan kata pembukaan dari ketua rapat itu berbeda. Jika kata pembukaan ketua rapat itu berhubungan dengan aspek horizontal dari peserta rapat maka votum lebih dari itu, yaitu menyentuh aspek vertical (hubungan dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan dengan jemaat yang hadir). Misalnya ketua rapat memulai rapat dengan mengatakan kata khidmat “saya membuka rapa” atau saudara-saudara kita akan segera memulai rapat kita. Sedangkan Votum “Pertolongan kita ialah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi” (rumus votum ini menyangkut dengan Tuhan dan umat-Nya yang berkumpul). Dalam votum terletak amanat, kuasa (eksousia) Tuhan Yesus. Segala sesuatu yang menyusul setelah votum semuanya berlangsung dalam nama Tuhan (Lihat rumus votum, Maz.124:8) Jadi maksud votum adalah mengkonstatir hadirnya Tuhan di tengah-tengah umat-Nya. Maka Gereja mengucapkan votum pada permulaan kebaktian atau votum menjadi unsure pertama dalam ibadah Protestan. Votum hendak menegaskan bahwa berlangsungnya ibadah dari awal sampai akhir ibadah hanya dapat terjadi dalam pimpinan Tuhan. Pendeta dapat memimpin ibadah dan Jemaat dapat berdoa, memuji Tuhan dst dalam ibadah Gereja itu hanya berlangusng karena Tuhan dan bukan kehebatan pendeta atau jemaat (Abineno,2000:2-3)
Salam adalah tanda persekutuan antara yang memimpin ibadah dengan jemaat. Dalam ibadah pelayan memberi salam kepada Jemaat dari mimbar dan jemaat memberi salam kepada pelayan yang sedang di mimbar. Salam adalah tanda persekutuan. Dengan salam ini mau ditegaskan bahwa pemimpin ibadah tidak sendirian dalam ibadah tetapi ia bersama-sama dengan jemaat. Oleh karena itu pengucapan salam juga menunjukkan tanda ikatan emosional antara pemimpin ibadah dan anggota jemaat. Rumus salam seperti dalam: Rom. 1:7; 2 Tim.1:2; 2 Kor.13:13 (Abineno, 2000:8)
Introitus terdiri dari nyanyian masuk dengan atau tanpa nas pendahuluan yang dinyanyikan oleh jemaat dan bukan oleh Paduan suara atau vokal group. Ada Gereja yang menggantikan introitus dengan nats pembimbing. Baik introitus maupun nats pembimbing selalu dihubungkan dengan tahun Gerejawi atau nats khotbah.(Abinen0, 2000:14-15)
Pengakuan dosa. Dalam Missale Romanum diinformasikan bahwa sejak abad ke 10 terdapat kebiasaan imam ketika sampai dekat mesbah, imam tunduk menyembah dan mengaku dosanya kepada Tuhan. Ketika unsure Pengakuan dosa dan pemberitaan anugerah diteruskan dalam ibadah Protestan maka dua unsure ini dirubah yaitu pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dosa dijadikan sebagai akta jemaat. Dengan kata lain Gereja Reformasi meneruskan pemakaian pengakuan dosa (Confiteor) dan permohonan pengampunan (absolusi) dalam ibadah yang dilakukan oleh jemaat kepada Tuhan dan bukan hanya oleh imam atau pendeta. Jadi dalam ibadah Protestan, pengakuan dosa dan permohonan pengampunan dirubah dan dijadikan menjadi akta jemaat. (Abineno, 2000:170
Hukum yang dimaksud disini adalah pembacaan 10 hukum Taurat dalam ibadah Gereja
Gloria Kecil, Kyrie Eleison dan Nyanyian Pujian. Gloria kecil adalah sebuah nyanyian: Hormat bagi Bapa serta Anak dan RohKudus, seperti pada permulaan, sekarang ini dan selama-lamanya. Amin. Kyrie Eleison (Tuhan Kasihanilah) adalah suatu doa yang terkenal di bangsa-bangsa kafir di Mesir, Asia Kecil, Konstantinopel, Yunani, Roma dll) yang kemudian diambil alih oleh jemaat dalam liturgy mereka. Unsur ini semakin lama semakin hilang dalam liturgy ibadah Gereja Calvinis. Nyanyian Pujian adalah penyembahan atau penghormatan kepada Allah atau suatu worship dimana jemaat sekarang mendapat bagian di dalam kidung pujian, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Wahyu. (Abineno, 2000:34-36,40).
Doa Pembacaan Alkitab dan Khitbah. Dalam ibadah Protestan, pembacaan Alkitab dan Renungan mendapat tempat yang sentral atau mendapat porsi waktu yang cukup lama dari unsure-unsur lainnya karena ibadah Protestan sentralnya adalah Firman Tuhan (Sola Skriptura). Dalam Bacaam Alkitab itulah tercermin bagaimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Tetapi karena sabda Tuhan itu ditulis dalam budaya (Ibrani dan Yunani) maka perlu diberi penjelasan atau homilia sehingga jemaat mengerti Tuhan yang berbicara kepada-Nya. Atau Tuhan yang dijumpai di Ibadah Gereja. Supaya isi Alkitab yang dibacakan dapat dimengerti maka perlu berdoa mohon pencerahan Roh Kudus.
Pengakuan Iman. Ada Gereja yang memakai pengakuan iman sebagai unsure liturgy tetapi ada pula Gereja yang tidak memakainya dalam liturgy ibadah. Sejak semula pengakuan iman erat hubungan dengan orang yang dibaptis. Pada acara baptisan, sang calon baptisan menjawab soal-soal yang berhubungan dengan pengakuan imannya. Misalnya: Uskup, percayakan engkau kepada Allah, Bapa Yang Mahakuasa- orang yang dibaptis menjawab: aku percaya (sesudah itu ia diselamkan) dst. Pada abad ke-5 pengakuan iman mulai dipakai dalam ibadah Jemaat di sebelah Timur (Antiokhia dan Konstantinopel). Kemudian dipakai di Gereja Barat di misa Romawi pada tahun 1014. Di Gereja Barat, pengakuan iman ditempatkan setelah khotbah dan permulaan ibadah Perjamuan Kudus. Seterusnya dalam Gereja Roma sekarang pemakaian Pengakuan Iman setelah Khotbah. Gereja Reformasi juga memakai pengakuan iman dalam tata ibadah jemaat dengan urutan yang tidak sama, ada Gereja yang sebelum khotbah tetapi ada pula yang melakukannya setelah khotbah. Hal ini bergantung dari tujuan pengakuan iman tersebut. Pengakuan iman yang biasa dipakai adalah: Pengakuan Iman Rasuli (PIR), Pengakuan Iman Nicea ( PIN), Pengakuan Iman Athanasius.
Doa Syafaat. Tempatnya dalam ibadah Jemaat biasanya sesudah khotbah. Isi doa syafaat adalah untuk orang lain: Gereka, Pemerintah dll. Sikap doa syafaat: ada yang menyatakan sebaiknya doa syafaat dilakukan dengan sikap berlutut, yaitu sikap penyembahan jiwa manusia dihadapan kebesaran Allah (Kuyper). Ada yang menyatakan doa syafaat dilakukan dengan sikap berlutut bagi anggota jemaat ditempatnya masing-masing, sedangkan pelayan di depan meja atau mimbar (Van der Leeuw). Yang lain menyatakan doa syafaat dilakukan dengan sikap berdiri (Golterman) namun akan sangat melelahkan jika doanya panjang. Ada pula yang mengusulkan sikap duduk lebih baik karena menyatakan keakraban, kerendahan hati dan konsentrasi (Abineno, 2000:86-91)
Pemberian Jemaat adalah syukur jemaat kepada Tuhan atas berkat yang Tuhan berikan kepada Jemaat. Jadi persembahan adalah pernyataan syukur kepada tuhan. Tempatnya setelah Khotbah. Karena persembahan adalah respon umat terhadap Tuhan yang telah memberkatinya.
Berkat. Biasanya melalui penumpangan tangan. Penumpangan tangan disini hanya bersifat symbol yaitu berkat. Tuhan sendirilah yang memberkati anggota jemaat. Sedangkan penumpangan tangan adalah symbol tentang berkat dimaksud. Rumus berkat: Bil. 6:22-27; II Kor. 13:13; Bil.6:24-26 dan ayat-ayat lainnya dalam Alkitab.
Berbagai unsure liturgi yang diuraikan di atas, ada yang memeakai secara keseluruhan tetapi ada pula yang tidak seluruhnya, hanya unsure-unsur tertentu yang dipakai dalam ibadah jemaat pada setiap hari Minggu. Misalnya ada Gereja yang tidak memakai kata Votum tetapi menggunakan kata-kata pembukaan dalam memulai suatu ibadah. Sebenarnya kata-kata pembukaan, entah oleh WL atau MC dalam suatu ibadah dan rumus votum yang diucapkan oleh pelayan dalam ibadah Gereja sama esensinya. Tetapi secara Teologis makna rumus votum (Pertolongan kita ialah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi) lebih dalam makna teologisnya dari pada kata-kata pembukaan oleh MC dll, kecuali MC membuat kata-kata pembukaan yang maknanya sama dengan rumus votum tersebut di atas.
Unsure-unsur liturgy yang dijelaskan di atas tidak seluruh Gereja memakainya. Ada Gereja-gereja yang mungkin memakai unsure baru dalam liturgy ibadah. Gereja-gereja yang belum kami singgung liturgy ibadahnya, yaitu:

Liturgi Gereja Anglikan (belum dapat)
Liturgi Gereja Metodis (belum dapat)
Liturgi Gereja Anabaptis (belum dapat)
1. Liturgi Gereja Baptis (belum dapat)
2. Liturgi Gereja Pentakosta (belum dapat)
3. Liturgi Gereja Bethel Indonesia (amatan melalui ibadah mahasiswa)


Adalah tidak seimbang jika dalam pembahasan liturgy (dalam arti tata ibadah) tidak menyinggung tentang unsure-unsur liturgy yang dipakai dalam Ibadah Gereja Bethel Indonesia. Hal ini disebabkan karena kami menyajikan materi kuliah ini di Sekolah Teologi yang dinaungi Gereja Bethel maka kami harus membicarakan tentang liturgy Gereja Bethel. Mungkin istilah liturgy tidak umum dipakai, yang dipakai adalah tata ibadah.
Penulis menyadari tata unsure-unsur tata ibadah yang disinggung dalam bahasan ini tidak kami temukan dalam dokumen Gereja Bethel tetapi kami simpulkan secara fenomena beribadah, yaitu pada saat mahasiswa STTB The Way kelas Ekstensi mengadakan desain dan eksperimen liturgy ibadah di kelas pada tanggal, 30 Agustus 2006 Pukul, 17.45-21.00. Dari ibadah inilah kami dapat menyimpulkan unsure-unsur yang dipakai dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia (mungkin tidak semua jemaat local Gereja Bethel Indonesia memakai unsure-unsur yang sama dari yang kami sebutkan, karena unsure-unsur ini bergantung dari WL dengan system mengalir/pimpinan Roh).
Dengan demikian kami segera merumuskan unsure-unsur yang ada dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia (Tata Ibadah/Liturgi Gereja Bethel):
Usnsur-unsur liturgy Gereja Bethel Indonesia sbb:
Kata Pembukaan/kata pengantar beribadah : oleh Worship Leader/WL
Doa Pembukaan : Oleh WL
Pengakuan dosa
Doa memberkati jemaat
Doa untuk Pengkhotbah dll sambil diringi musik (piano)
Pujian Penyembahan : Oleh WL
Dinyanyikan dalam posisi duduk
Dinyanyikan dalam posisi berdiri sambil bertepuk tangan
Dilanjutkan dengan berbahasa Roh
Bertepuk tangan dan bermazmur
Bersalaman satu dengan lainnya
Menyanyi dengan bersukaria sambil melompat-lompat
Menyanyikan sebuah pujian yang diulangi beberapa kali untuk menyambut pembacaan Alkitab dan penguraiannya/homilia (jemaat duduk)
Menyanyi bersama : (Jemaat berdiri)
Menyanyi nyanyian Baru : Oleh WL, anggota Jemaat dan pendeta
Doa Pembacaan Alkitab : Oleh Pengkhotbah
Bacaan Alkitab : Oleh Pengkhotbah
Renungan : Pengkhotbah
Doa ucapan syukur atas Firman Tuhan : Oleh Pengkhotbah
Pengumuman : Oleh Petugas
Doa Persembahan : Oleh WL
Persembahan Jemaat : Oleh Petugas
Doa Syafaat : Jemaat berdiri, doa dipimpin oleh petugas
Doa Berkat : Oleh Pendeta/Pengkhotbah
Berdasarkan liturgi ibadah ini tercermin peranan jemaat dalam ibadah, tidak ada monopoli oleh pendeta, anggota jemaat berpartisipasi dalam ibadah melalui puji-pujian, bahasa Roh, nyanyian baru dan unsure-unsur lainnya yang menjadi indicator pertemuan anggota jemaat dengan Tuhan dalam sebuah ibadah. Selanjutnya perjumpaan Tuhan dengan anggota jemaat dalam ibadah ini nampak dalam bacaan Alkitab dan renungan Firman Tuhan, renungan Firman Tuhan diusahan oleh pengkhotbah dengan bersandar pada kekuatan Roh sehingga menjadi actual dan fungsional bagi pendengar.
Dalam ibadah ini pun WL banyak memainkan peran berdasarkan konsep mengalir (Flowing Consept). Konsep mengalir yang dimaksudkan disini sebagaimana yang kami ketahui dari mahasiswa dan juga dalam Workshop Handbook Fresh Worship Conference Jakarta 2006, khususnya yang disajikan oleh Pdt. Ir. Welyar Kauntu. Ia menyatakan bahwa tujuan dari konsep mengalir adalah (1) mengerti alur ibadah yang tepat (2) mengerti bagaimana menyanyikan sebuah lagu dengan tepat (3) mengerti bagaimana menyatu dengan musik dan singers (4) mengerti bagaimana menyambung aliran dari lagu ke lagu. Selanjutnya Kauntu menyatakan bahwa unsure penentu mengalir terdiri dari focus; interpretasi; dan harmoni. Unsur focus dari konsep mengalir, yaitu menjaga supaya semua mata tertuju kepada Tuhan Yesus melalui ekspresi yang benar; lagu-lagu yang dipilih hendaknya memfokuskan orang pada Tuhan Yesus; konsep mengalir berfokus pada usaha memotivasi dan bukan menggurui, mengaja dan bukan memerintah; membuat keputusan tepat sesuai tuntunan Roh Kudus. Unsur Interpretasi menyangkut penghafalan lirik lagu dan memahami makna setiap baris dan kalimat lagu tersebut; menangkap dengan tepat “hook” lagu dan dinamikanya; mengetahui waktu yang tepat untuk “add-lip” dan komentar pendek. Unsur Harmoni dari konsep mengalir yaitu adanya kesatuan Roh dan kesatuan motivasi; menyatu dengan interpretasi musik, khususnya rhythm dan tempo lagu; mengenal intro, interlude dan coda lagu dengan baik; komposisi arasemen vokal yang baik bersma para singers.(Workshop Handbook Fresh Worship Conference Jakarta, 2006:8-9)
Berdasarkan unsure-unsur ibadah yang muncul dalam praktik ibadah di kelas oleh mahasiswa STTB The Way Kelas Ekstensi yang mayoritas berasal dari Gereja Bethel Indonesia maka dapat kita katakana bahwa ada unsure lama (unsure liturgy/tata ibadah Gereja masa lampau ) dan ada unsure baru (kesesuaian dengan pimpinan Roh Tuhan dan perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman ) dalam ibadah Gereja Bethel Indonesia.
Pada akhirnya kami katakana bahwa apapun tata ibadah yang kita buat harus mencerminkan pertemuan Tuhan dengan umat-Nya dan umat-Nya dengan Tuhan. Pertemuan umat atau anggota Gereja dengan Tuhan dalam sebuah ibadah minggu dan ibadah lainnya dapat dilihat dari keikutsertaan anggota jemaat dalam ibadah seperti: Berdoa, Berbahasa Roh, Memuji Tuhan, Menyembah Tuhan, Mengaku dosa sebelu, bertemu Tuhan, memberi sykur kepada Tuhan melalui persembahan, menyanyikan nyanyian baru dll. Sedangkan pertemuan Tuhan dengan umat-Nya atau anggota Gereja itu terjadi melalui membaca Alkitab. Artinya ketika Alkitab dibacakan maka sebenarnya Jemaat sedang mendengar Tuhan berbicara kepada Jemaat. Bacaan Alkitab juga perlu dijelaskan karena Firman Tuhan itu disampaikan dalam konteks budaya lain seperti budaya Ibrani dan Yunani oleh karena itu maka setelah Alkitab dibacakan segera diikuti dengan renungan sehingga jemaat mengerti Tuhan yang berbicara kepanya, entah dalam bentuk nasehat, teguran atas dosa dll. Selain itu dapat juga melalui doa berkat, yaitu melalu doa berkat Tuhan sendiri memberi berkat kepada jemaat. Penumpangan tangan pendeta atau hamba Tuhan hanya tindakan simbolis saja.
Oleh karena konsep seperti itu maka ibadah mesti disiapkan secara baik. Tata ibadah harus disiapkan secara baik, WL juga mempersiapkan diri dengan baik dan memang demikian karena informasi yang kami peroleh tidak semua orang menjadi WL, ada pelatihan khusus WL di Bandung.
Jadi jelas bahwa ibadah, entah oleh gereja manapun, Katolik, Protestan dan Gerakan Kharismatik harus mencerminkan perjumpaan antara Tuhan dan Jemaat-Nya dan jemaat-Nya dengan Tuhan. Pertemuan ini harus terakomodasi dalam sebuah tata ibadah yang dirancang entahkah dengan system tata ibadah yang baku dan dengan “system mengalir”. Untuk mencapai maksud ini maka perlu renungan mendalam tentang apa itu ibadah Gereja?dan bagaimana liturginya atau tata ibadah yang mencerminkan definisi kita tentang ibadah.


[1] Bahan ini seluruhnya milik saya, saya sudah posting beberapa tahun di wordpress dengan alamat: http://yonasmuanley.wordpress.com




Tuesday, June 5, 2018

Pendahuluan


Hari ini tanggal 5 Juni 2018, saya membuka blog saya dengan tema Berliturgi, ternyata ada beberapa halaman blog yang terkena "Deceptive site ahead". Lalu saya masuk ke Google Webmaster yaitu di Search Consele. Saya dibertahu oleh Google bahwa dalam beberapa artikel saya terdeteksi firus berbahaya. Google menyatakan: "Google telah mendeteksi konten berbahaya di beberapa halaman situs Anda. Sebaiknya hapus konten tersebut sesegera mungkin. Hingga Anda melakukannya, browser seperti Google Chrome akan menampilkan peringatan ketika pengguna membuka atau mendownload file tertentu dari situs Anda. Pelajari lebih lanjut."

Saya kemudian memperbaiki beberapa halaman yang terkena:Deceptive site ahead. Salah satunya yaitu Artikel dengan topik pendahuluan. Saya mengkopi artikel dalam laman pendahuluan dengan cara masuk di laman blog, klik edit dan kopi artikel. Kemudian seluruh bagian yang mengndung kode html dihapus sehingga tersisa artikel saja. Saya menata ulang dan membuat postingan baru dengan judul Pendahuluan dan memposting artikel yang telah diperbaharui. Berikut hasilnya.

PENDAHULUAN

Studi Liturgika adalah salah satu disiplin ilmu teologi praktika yang berfungsi menolong mahasiswa untuk kepentingan pelayanan Gereja. Tentu liturgy sebagai Ilmu praktika hendak memperlengkapi mahasiswa untuk tugas pelayanan Gereja, khususnya dalam ibadah Minggu dan ibadah lainnya. Oleh karena itu maka dalam kurikulum standar Nasional yang dikeluarkan Pemerintah RI melalui Dirjen Kristen Protestan memuat mata kuliah Liturgika sebagai bagian pengalaman belajar dari mahasiswa Teologi di Sekolah-sekolah Teologi yang ada di Indonesia. Pengalaman belajar liturgy ini akan menolong mahasiswa untuk memahami bahwa liturgy bukan sesuatu yang tidak dapat dirubah, liturgy dapat berubah sesuai dengan konteks zaman dan kebudayaan di mana Gereja berada. Misalnya liturgy sebelum pentakosta (liturgy ibadah Israel) akan berbeda dengan liturgy setelah pentakosta. Liturgi Pentakosta zaman Gereja mula-mula berbeda dengan liturgy Gereja Abad Pertengahan (khususnya setelah Gereja diakui sebagai agama Negara tahun 380) liturgy ditata panjang lebar (banyak unsure) namun tidak sama halnya dengan liturgy Pentakosta zaman Gereja mula-mula, unsure-usnsurnya tidak terlalu banyak karena komunitas Gereja sering dilarang dan dianiaya. Liturgi ibadah Gereja-gereja Pentakosta akan berbeda dengan liturgy Gereja-gereja Protestan warisan zending Belanda dan Jerman.

Warisan liturgy Zending Belanda dan Jerman di Indonesia tidak dapat disangkali karena Gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia adalah hasil karya Roh Kudus melalui pelayanan para misionaris Belanda dan Jerman pada abad 17-18. Liturgi-liturgi itu kadang diterima di Indonesia tanpa atau dengan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan konteks Indonesia. Hal ini akan muncul dalam uraian tentang unsure-unsur liturgy yang dipakai oleh beberapa Gereja-gereja di Indonesia. Dalam kaitan itu, bila kita melihat liturgy yang dimaksud maka akan nampak bagi kita bahwa terdapat banyak unsure dalam ibadah Gereja Protestan sehingga pada satu sisi jemaat merasa bosan walaupun anggapan ini tidak selamanya benar. Dampak dari banyaknya unsure liturgy yang dipakai secara baku dalam Gereja Protestan dinilai beberapa orang sebagai sesuatu yang membosankan karena tidak ada hal-hal yang baru. Jemaat merindukan hal-hal yang baru atau unsure-unsur dalam tata ibadah yang membuat jemaat semangat dan lain-lain.

Dari apa yang dikatakan terakhir di atas, ada anggapan bahwa liturgy adalah sesuatu yang kaku dan menjadi semacam alergi, artinya orang tidak suka menggunakannya karena kata liturgy dipahami sebagai sesuatu yang kaku sehingga membosankan. Namun bila kita berusaha untuk memahami arti liturgy, baik dalam pengertian Yunani Kuno, penggunaan kata liturgy dalam Alkitab, dan dalam ilmu Teologi.

Akan memberi hasil yaitu bahwa kata liturgy tidak harus dimengerti dalam pengertian tata ibadah yang kaku. Usaha-usaha inilah yang coba dipaparkan dalam bahan ajar yang kini oleh kemurahan Tuhan saya onlinekan dalam weblog saya Setiap Gereja, entah dari denominasi manapun sebenarnya sedang melakukan liturgy. Hanya saja apakah liturgy yang dilakukan Gereja adalah liturgy sejati? Dalam bahan Ajar Online Berbasis Free Weblog (Blogspot) ini, saya memaparkan epistemologi (hasil pengetahuan) tentang liturgy sejati. Bahasan dalam bahan ajar online materi liturgika akan disinggung juga musik liturgy. Hal ini karena alasannya yakni musik tidak dapat dipisahkan dari ibadah Gereja. Selain itu liturgy tidak harus menjadi firman Tuhan, maksudnya liturgi tidak dapat dirubah, hanya firman Tuhan yang tidak dapat diubah, liturgi itu respon manusia maka seiring dengan perkembangan liturgi harus mengalami perubahan-perubahan. Liturgi selalu mengalami perubahan. Untuk menjawab kebutuhan ini maka akan dibicarakan unsure-unsur yang perlu diperhatikan dalam mendesain sebuah liturgy yang kontekstual atau penciptaan sebuah liturgy yang kreatif. Selanjutnya suasana bagaimana yang diharapkan dalam sebuh ibadah, juga disinggunggung dalam diktat ini.

Pada akhirnya inti dari pembelajaran liturgika adalah usaha mencari pemahaman akan arti liturgy dan arti ibadah Gereja, dan bagaimana definisi tersebut terimplikasi dalam liturgy ibadah. Dengan kata lain berdasarkan definisi tentang ibadah Kristen atau ibadah Gereja maka unsure-unsur apa yang harus terakomodir dalam tata ibadah tersebut baik, entahkah dengansystem baku (liturgos) maupun dengan “konsep mengalir” oleh WL. Jadi, apa yang harus ada dalam ibadah Gereja, itulah yang akan dibicarakan. Untuk kepentingan ini maka dalam Bahan Ajar Online ini, saya berusaha mengemukakan beberapa definisi tentang ibadah, definisi dari studi kata dan definisi yang dirumuskan berdasarkan fenomena (apa yang terjadi dalam ibadah Gereja). Penegasan ini penting karena berdasarkan definisi tersebut ukurlah ukurlah tata ibadah atau ibadah kita dan apakah itu tercermin dalam ibadah kita. Katakan saja Ibadah didefinisikan “pertemuan Tuhan dengan Umat-Nya dan umat-Nya dengan Tuhan” maka kita dapat mengukur ibadah kita, apakah dua pertemuan tersebut terjadi dalam sebuah kebaktian Gereja. Tuhan berfirman kepada umat-Nya (melalui bacaan Alkitab dan renungan/homilia) dan memberi berkat kepada umat-Nya (=doa berkat) dan umat-Nya memberi respon terhadap pertemuan tersebut dalam bentuk: doa, pengakuan dosa, permohonan pengampunan dosa, memuji Tuhan, menyembah Tuhan, menyanyikan nyanyian baru, berbahasa Roh, memberi persembahan sebagai tanda ucapan syukur dll. Yang dilakukan oleh jemaat tanpa harus dimonopoli oleh Pendeta, MC, Liturgos, WL dstnya.

Jadi, liturgi mensistematisasi pertemuan tersebut secara teratur karena Tuhan kita kerjanya sistematis/teratur (lihat penciptaan dan PI oleh Yesus Kristus yang dimulai dari bangsa pilihannya walaupun bangsa pilihannya menolak tetapi harus dimulai dari Yerusalem). Tepatlah kata Riemer Liturgi adalah Cermin Injil. Selamat berliturgi dan beribadah dalam organisasi dimana kita berada.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

Salam liturgis

Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Berikut Peringatan Google untuk laman Blog yang dinilai mengandung: "Deceptive site ahead". Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu pemasangan kode iklan berupa kode html yang dipasang di laman blog maupun bilah blog pada gadget blog. Berikut saya lampirkan laman blog Pendahuluan yang terkena "Deceptive site ahead".

Saya sengaja memposting ini untuk menjadi pelajaran buat rekan-rekan yang menggunakan blog sebagai media publikasi aktivitas profesionalismenya. Bila pengunjung blog mengalami hal yang sama jangan panik, segera masuk di dashboard blog, di laman postingan klik Edit dan kopi tulisan dalam laman tersebut. Setelah itu perbaiki bagian-bagian yang diberi kode-kode, pertahankan tulisan dalam artikel. Kemudian perbaiki dan posting ulang di laman artikel baru. Judu artikelnya bisa sama dengan artikel yang terkena: "Deceptive site ahead".
Perbaikan ini menunjukkan bahwa kita tidak punya niat membuat situs penipuan atau bekerja sama dengan situs yang dianggap menipu. Kosongkan laman blog atau gadget yang mengandung potensi virus, khususnya program Publisher kode html untu iklan yang sifatnya PopUp, Intrensial, Iklan pengalihan laman, iklan download, kode html video downoad. Biasanya 90% berpotensi firus yang merusak komputer kita maupun pengunjung blog.
Google sudah mengantispasinya oleh karena itulah Google akan memberitahu atau menandai laman blog yang mengalami:"Deceptive site ahead"

Ketika saya masuk ke laman "Search Consele" untuk mencari petunjuk pemeliharaan kesehatan blog maka saya dapat informasi berikut:
Menyertakan Penipuan
Halaman ini menyematkan konten seperti gambar atau iklan yang mencoba mengelabui pengguna untuk melakukan hal berbahaya seperti memasang software yang tidak diinginkan atau mengungkap informasi pribadi.

Informasi ini menolong kita untuk berhati-hati dengan pemasangan kode iklan html dari program publisher situs-situs tertentu yang menawarkan program Pubisher.

Semoga bermanfaat.

Monday, June 4, 2018

Tombol Navigasi Dihapus

Tombol Navigasi Dihapus

Hari ini tanggal, 5 Juni 2016 saya membuka laman blog ternyata ada yang terkena peringatan: Deceptive site ahead, khususnya pada halaman postingan visi dan misi Blog. Saya kemudian masuk ke Google Webmaster tools dan mendapat informasi: "Google telah mendeteksi konten berbahaya di beberapa halaman situs Anda. Kami menyarankan Anda menghapusnya sesegera mungkin. Hingga saat itu, peramban seperti Google Chrome akan menampilkan peringatan ketika pengguna mengunjungi atau mengunduh file tertentu dari situs Anda. Belajarlah lagi."

Berdasarkan Informasi ini saya masuk ke laman blog dan menghapus postingan visi dan misi yang terkena peringatan tersebut. Lalu tindakan lain yaitu saya menghapus seluruh link banner publisher dalam blog ini. Saya hapus karena kuatir seleuruh artikel mengalami nasib yang sama dengan artikel visi dan misi blog. Saya bertetimakasih kepada Google karena sangat protektif. Tentu untuk kemanan saya dan pengguna yang mengunjungi laman blog ini. Jadi hari ini saya sudah menghapus artikel yang terkena peringatan: Deceptive site ahead." Semua ini untuk menjaga kesehatan blog ini maka beberapa postingan yang terkena peringatan virus dihapus. Saya akan buat tombol navigasi kembali setelah semua postingan dianggap aman.

Salam

Yonas Muanley
Blogger Partime